Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Makna Doa Iftitah dalam Sholat

Memahami Makna Doa Iftitah dalam Sholat

Setelah takbiratul ihram, selanjutnya kita disunnahkan membaca doa iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Banyak bacaan doa iftitah yang disebutkan dalam hadits yang shahih.

Disunnahkan untuk membaca salah satu dari doa tersebut dan para ulama menjelaskan bahwa yang terbaik adalah kita berganti-ganti membacanya pada setiap sholat, sehingga tidak hanya terpaku pada satu macam bacaan iftitah pada setiap sholat kita.

Dalam satu sholat kita menggunakan satu macam bacaan, kemudian pada sholat berikutnya menggunakan macam bacaan yang lain. Hal tersebut akan lebih tepat dan sesuai dengan Sunnah Nabi serta akan lebih memudahkan kita mengamalkan seluruh bacaan-bacaan yang dituntunkan oleh beliau.

Namun, jika dia tidak mampu menghapalnya kecuali hanya satu saja dan selalu membaca satu macam tersebut pada setiap sholat, maka hal itu tidaklah mengapa. Di antara bacaan-bacan iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alahi wasallam adalah:


  1. Doa Iftitah dari Hadits Bukhari dan Muslim

    Berikut adalah bacaan doa iftitah yang disebutkan dalam Hadits Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah (doa iftitah allahumma baid):

    اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِاْلمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ

    Arti dan terjemah Doa Iftitah sesuai sunnah:

    "Ya Allah jauhkanlah antara aku dengan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara barat dengan timur. Ya Allah bersihkan aku dari dosa-dosaku sebagaimana terbersihkannya baju putih dari noda (yang mengenainya). Ya Allah cucilah diriku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun"


    Bacaan Doa Iftitah dan Artinya per kata:

    اللَّهُمَّ بَاعِدْ = Ya Allah jauhkanlah
    بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ = antara diriku dengan dosa-dosaku
    كَمَا بَاعَدْتَ = sebagaimana Engkau jauhkan
    بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ = antara timur dengan barat
    اللَّهُمَّ نَقِّنِي = Ya Allah bersihkanlah aku
    مِنْ خَطَايَايَ= dari dosa-dosaku
    كَمَا يُنَقَّى = sebagaimana terbersihkannya
    الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ = pakaian putih
    مِنَ الدَّنَسِ = dari noda
    اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي = Ya Allah cucilah diriku
    مِنْ خَطَايَايَ= dari dosa-dosaku
    بِاْلمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ = dengan air, salju, dan embun


    Makna Doa Iftitah di atas Secara Umum:

    Kita memohon kepada Allah supaya Ia jauhkan kita dari perbuatan-perbuatan dosa sebagaimana Ia menjauhkan antara timur dan barat yang tidak akan berkumpul selamanya. Jika sampai kita terjerumus ke dalam dosa, kita mohon ampunan-Nya dan mohon dibersihkan dari dosa-dosa tersebut sebagaimana bersihnya pakaian yang putih dari noda.

    Kemudian kita memohon kepada Allah supaya Ia membersihkan diri kita dari bekas dosa tersebut agar benar-benar bersih dan suci dengan kiasan penggunaan air, salju, dan embun. Air untuk membersihkan, sedangkan dinginnya salju dan embun merupakan kiasan untuk menghilangkan pengaruh api neraka (An Naar) yang panas membakar.

    Imam Al Khattaby mengatakan: "Penyebutan salju dan embun sebagai bentuk penguatan (akan semakin bersih hasilnya jika air ditambah dengan salju dan embun) karena keduanya (salju dan embun) tidak tersentuh/dijamah oleh tangan-tangan".

    Ibnu Daqiiqil 'Ied berkata: "Pengibaratan semacam itu menunjukkan pembersihan yang sempurna. Karena baju yang dicuci berkali-kali dengan 3 unsur tersebut (air, salju, dan embun) akan mengalami kebersihan yang sempurna"


  2. Doa Iftitah dari Umar bin Khattab

    Berikut adalah bacaan doa iftitah yang disebutkan dalam hadits Umar bin al-Khattab diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadis Shahihnya, dan dari Aisyah diriwayatkan oleh Abu Dawud, serta dari Anas yang diriwayatkan oleh Imam Ad Daaruquthni:

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

    Arti dan Terjemah Doa Iftitah di atas:

    "Maha Suci Engkau Ya Allah dan (bersamaan dengan itu) aku memujiMu dan sungguh banyak barokah yang terkandung pada NamaMu, dan Maha Tinggi KeagunganMu, dan tidak ada sesembahan yang haq selainMu"


    Bacaan Doa Iftitah dan Artinya per kata:

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ = Maha Suci Engkau Ya Allah
    وَبِحَمْدِكَ = dan (aku) memujiMu
    وَتَبَارَكَ اسْمُكَ = dan Maha Suci NamaMu
    وَتَعَالَى جَدُّكَ = dan Maha Tinggi KeagunganMu
    وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ = dan tidak ada sesembahan yang haq selainMu


    Makna secara umum:

    Kita mensucikan Allah dari segala aib dan kekurangan. Allah tersucikan dan amat jauh dari segala kekurangan-kekurangan, dan kita puji Ia karena memiliki segala sifat-sifat kesempurnaan dan perbuatan-perbuatan kebaikan

    Kemudian kita tetapkan dan yakini bahwa pada Nama Allah terkandung barokah (kebaikan yang banyak) yang melimpah, serta kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq untuk diibadahi selain Allah. Hanya Allah-lah satu-satunya Ilaah (sesembahan) yang benar (haq), tidak kita sekutukan Ia dengan apapun dalam ibadah.


    Penjelasan Doa Iftitah Umar bin Khattab:

    Pada bacaan ini terkandung pensucian, pujian, pengagungan, pengesaan Allah.

    • Pensucian (kalimat tasbih)

      Ketika kita membaca سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ, kita sucikan Allah dari segala hal yang tidak pantas dinisbatkan kepada Allah, Sang Pemilik segala Kesempurnaan.

      Kita sucikan Ia dari segala sifat-sifat kekurangan seperti lemah, lupa, lalai, ngantuk, tidur, capek, tuli, dan segala macam aib dan kekurangan yang bisa dijumpai pada makhluk, sebagaimana Allah sendiri mensucikan diriNya dalam kalam-Nya yang mulia :

      وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ
      "Dan tidak ada suatu pun bagi Allah yang dapat melemahkanNya di langit maupun di bumi" (QS Fathir 44)

      وَماَ كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
      "Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan lupa" (QS Maryam 64)

      وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
      "Dan Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kalian perbuat" (QS Al Baqarah 74)

      لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ
      "Dan tidaklah menghinggapi-Nya kantuk maupun tidur" (QS Al Baqarah 255)

      وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ
      "Dan sungguh telah Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan di antara keduanya dalam enam hari dan tidaklah menghinggapi Kami perasaan capek" (QS Qaf 38)

      Dan sabda Rasulullah SAW kepada para Sahabatnya ketika beliau memberi nasehat kapada para Sahabat yang meninggikan suara ketika berdoa:

      إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَغَائِبًا إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا مُجِيْبًا
      "Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli atau tiada, sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi dekat dan Maha mengabulkan doa" (HR Al-Bukhari, Ibnu Hibban dalam Shahihnya dan Abu Dawud dalam Sunannya)

      Kita juga mensucikan Allah dari segala tindakan, persangkaan dan anggapan yang mengada-ada dari orang-orang musyrikin, Yahudi, dan Nasrani. Allah SWT berfirman:

      أَمْ لَهُمْ إِلهٌ غَيْرُ اللهِ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
      "Apakah mereka memiliki sesembahan selain Allah ? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (QS Fathir 43)

      مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلهٍ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلاَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
      "Sekali–kali Allah tidak mengangkat anak dan tidak ada bersamanya Ilaah (sesembahan yang haq), jika ada Ilaah lain selainNya, maka setiap Ilaah tersebut akan bersama ciptaannya masing-masing dan akan saling mengalahkan satu sama lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan" (QS Al-Mu'minuun 91)

      Allah juga Maha Suci dari anggapan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bahwa Ia memiliki anak dan istri, sebagaimana dalam firman-Nya:

      وَقَالَتِ اْليَهُوْدُ عُزَيْرُنِ ابْنُ اللهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى اْلمَسِيْحُ ابْنُ اللهِ ذلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنّى يُؤْفَكُوْنَ
      "Orang-orang yahudi berkata: Uzair adalah anak Allah dan orang-orang nashrani berkata : al-Masih adalah anak Allah. Itu adalah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka menyamai perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Allah melaknat mereka. Bagaimana mereka bisa dipalingkan (dari al-haq)?" (QS At Taubah 30)

      أَنّى يَكُوْنُ لَهُ وَلَدٌ وَّلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ
      "Pantaskah bagiNya memiliki anak padahal ia tidak memiliki istri?" (QS Al An-am 101)

      سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
      "Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan keselamatan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam" (QS Ash Shoffat 180-182)

      Kumandangkanlah makna pensucian ini dalam hati anda ketika membaca bacaan tasbih, baik dalam doa iftitah ini maupun bacaan-bacaan tasbih lain di dalam maupun di luar sholat.


    • Pujian (kalimat tahmid)

      Setelah kita sucikan Allah dari segala hal yang tidak boleh dinisbatkan kepadaNya, kita puji Ia Sang Pemilik Segala Kesempurnaan dengan ucapan وَبِحَمْدِكَ (dan aku memujiMu). Kita memujiNya karena kesempurnaan yang menyeluruh pada nama, sifat, dan perbuatan-Nya.

      Perbuatan-Nya senantiasa berada dalam orbit keadilan dan kebaikan (ihsaan) serta keutamaan/kelebihan (fadl) yang diberikan kepada hambaNya. Ia Maha Adil, tidak sedikitpun berbuat dzhalim pada hambaNya.

      Seorang hamba tidak akan diadzab karena perbuatan yang tidak dilakukannya, masing-masing mendapat balasan sesuai dengan perbuatannya. Maka bagi hamba yang berdosa Allah sikapi ia dengan keadilan:

      وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا
      "Dan balasan keburukan adalah sama (sebanding) dengan keburukan yang diperbuat" (QS Asy Syura 40)

      Tidak Allah tambahi balasan bagi orang yang berbuat dosa lebih dari yang ia perbuat. Tapi, untuk orang yang berbuat kebaikan, Allah lipat gandakan balasan kebaikan baginya, sebagai bentuk rahmat dan karunia serta keutamaan yang diberikan Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman:

      مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
      "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, baginya mendapat sepuluh kali lipat (balasan)" (QS Al An-am 160)

      Dengan kasih sayang (rahmat)-Nya yang melampaui dan lebih dominan dari kemurkaan-Nya, Ia mudahkan hambanya untuk mendapatkan kebaikan dan jalan menuju keridlaannya. Disebutkan dalam sebuah hadits:

      عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعُمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً (متفق عليه)
      "Dari Sahabat Ibnu Abbas dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdasarkan apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya Tabaaroka Wa Ta'ala (hadits Qudsi).

      Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah menetapkan (pencatatan) kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian menjelaskan hal itu:

      "Barangsiapa yang memiliki tekad kuat untuk melaksanakan kebaikan tetapi tidak jadi mengerjakannya maka Allah catatkan baginya satu kebaikan yang sempurna, jika ia bertekad kuat dan mengerjakannya Allah Azza wa Jalla catatkan baginya 10 sampai 700 kali lipat kebaikan sampai berlipat-lipat banyaknya.

      Jika ia bertekad mengerjakan suatu kejahatan, kemudian ia urungkan (karena takut kepada Allah), maka Allah akan catat baginya satu kebaikan secara sempurna. Jika ia bertekad mengerjakan kejahatan dan ia kerjakan, maka Allah akan catatkan baginya satu kejahatan saja
      " (HR Al-Bukhari - Muslim)

      Subhanallah, bagaimana kita tidak bersyukur dan memuji Allah atas rahmat-Nya tersebut. Sehingga memang sungguhlah keterlaluan bagi seorang hamba jika dengan kemudahan-kemudahan ini, timbangan amal keburukannya masih lebih berat dibanding timbangan amal kebaikannya.

      Semoga Allah menjadikan timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari timbangan amal keburukan kita, dan semoga Ia mengampuni dosa-dosa kita dan kaum muslimin seluruhnya.

      فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ (8) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوا )أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُوْنَ (9
      "Maka barangsiapa yang lebih berat timbangan (amal kebajikannya), mereka itu adalah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (amal kebajikannya) maka mereka itu adalah orang-orang yang rugi dirinya disebabkan karena bersikap dzholim terhadap ayat-ayat Kami" (QS Al-A'raf 8-9)

      Bahkan, kalaupun setara bobot timbangan tersebut, hal itu sudah merupakan kerugian besar, karena demikian besarnya peluang yang disediakan Allah untuk melipatgandakan amal kebajikan.

      Sehingga benarlah ucapan salah seorang Sahabat Nabi yang mulya, Abdullah Ibnu Mas'ud: "Sesungguhnya seorang hamba jika mengamalkan satu kebajikan tercatat baginya sepuluh kali lipat, jika dia mengamalkan satu keburukan hanya dicatat satu saja. Maka binasalah orang yang (hitungan) satu-satu (keburukan)-nya ini mengalahkan (hitungan) sepuluh-sepuluhnya"

    • Pengagungan

      Dalam doa iftitah ini terkandung pengagungan terhadap Allah dalam 2 kalimat yang diucapkan, yaitu وَتَبَارَكَ اسْمُكَ (amat berlimpah barokah yang terkandung dalam nama-Mu) dan kalimat وَتَعَالَى جَدُّكَ (dan Maha Tinggi Keagungan-Mu).

      Artinya, nama Allah jika disebut akan mendatangkan barokah bagi pembacanya, dan ketinggian keagungan Allah di atas seluruh keagungan yang ada.

      Sebagai contoh, jika kita menyebut Nama Allah dengan mengucapkan بِسْمِ الله pada saat hendak menyembelih hewan kurban, maka turunlah barokah Allah pada hewan sesembelihan tersebut dengan menjadi halal untuk dimakan, berbeda dengan sesembelihan yang tidak dibacakan Nama Allah padanya akan menjadi bangkai yang haram untuk dimakan.

      Jika kita mengucapkannya sebelum makan, maka Allah akan memberikan barokah sehingga Syaitan tidak bisa makan bersama kita. Jika kita membaca sebelum berwudlu’, maka Allah akan memberkahi kita dengan menjadikan wudlu' kita lebih sempurna dan sesuai dengan Sunnah RasulNya.

      Kita tetapkan pula dengan yakin bahwa Maha Tinggi Keagungan Allah, dan paling tinggi di atas keagungan apapun yang ada. Di dunia, banyak raja dan penguasa yang diagungkan, banyak pula materi yang diagungkan, tapi Allah adalah yang jauh paling tinggi dalam hal keagunganNya dibandingkan itu semua.


    • Peng-Esaan (Mentauhidkan Allah)

      Doa iftitah ini mengandung tauhidullah dalam kalimat وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ (dan tidak ada sesembahan yang haq selain Engkau). Allah bukanlah satu-satunya sesembahan, karena dalam kenyataan memang ada banyak hal yang disembah selain Allah.

      Ada berhala, api, matahari, dan sebagainya yang disembah selain Allah. Sehingga ada banyak sesembahan, namun yang haq untuk disembah dan diibadahi dengan diiringi puncak perasaan tunduk, merendahkan diri, mengagungkan, dan mencintai, hanyalah Allah SWT semata, sedangkan yang lain adalah sesembahan-sesembahan yang batil.

      ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ اْلحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ اْلبَاطِلُ
      "Yang demikian itu adalah karena hanya Allahlah satu-satunya (sesembahan) yang haq, adapun yang mereka sembah selainNya adalah batil" (QS Al Hajj 62)

  3. Bacaan hadits dari Ibnu Umar

    Bacaan ini diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya, At Tirmidzi dan An Nasaa'i dalam Sunannya, Ahmad dalam Musnadnya 10:

    اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
    "Allah Maha Besar, aku mengagungkanNya, dan segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah pagi dan sore hari"


    Keutamaan membaca doa ini:

    Dalam hadits tersebut dikisahkan bahwa ketika salah seorang Sahabat membaca bacaan tersebut dengan keras dalam sholat, dan ketika selesai sholat Rasulullah bersabda, "Aku takjub dengan kalimat yang dibacanya, karena dengan kalimat itu dibukalah pintu-pintu langit".

    Sahabat Ibnu Umar; sang perawi hadits ini; mengatakan, "Aku kemudian tidak pernah meninggalkan membaca doa iftitah tersebut sejak aku mendengar Rasulullah mengucapkan (ketakjuban) hal itu" (HR Muslim dalam kitabusshalah Bab 'Maa Yuqalu bayna takbiiratil ihram wal qira'ah' nomor 601)


    Rincian Makna:

    اللهُ أَكْبَرُ = Allahlah yang terBesar di atas segalanya
    كَبِيْرًا = aku bertakbir mengagungkanNya
    وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا = dan segala puji bagi Allah dengan pujian yang berlimpah
    وَسُبْحَانَ اللهِ = dan Maha Suci Allah
    بُكْرَةً وَأَصِيْلاً = di waktu pagi dan sore hari


    Penjelasannya:

    Dalam doa ini terkandung takbir, tahmid, dan tasbih. Disebutkan pula dalam doa tersebut bahwa Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore hari. Di sini bukan berarti Allah Maha Suci hanya pada kedua waktu itu saja dan tidak pada waktu selainnya.

    Seperti telah dijelaskan pada doa sebelumnya bahwa Allah Maha Suci atas segala kekurangan dan dalam setiap keadaan. Namun, Allah memerintahkan kita untuk lebih memperhatikan waktu pagi dan sore hari untuk bertasbih mensucikanNya karena padanya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nampak jelas dari pergantian keadaan gelap ke terang dan sebaliknya.

    Tasbih kepada Allah di waktu-waktu tersebut semakin ditunjang dengan lapangnya waktu, dan manusia mayoritas tidak tersibukkan dengan keperluan-keperluan hidupnya. Sebagaimana firman-Nya :

    يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اْذكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا (41) وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً (42
    "Wahai orang-orang yang beriman, banyaklah berdzikir kepada Allah. Dan sucikanlah Ia (bertasbihlah) pada waktu pagi dan sore hari" (QS Al Ahzab 41-42)

    Asy Syaikh Abdurrahman bin As Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan:

    بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً وَسَبِّحُوْهُ
    "(Maksudnya) pada waktu permulaan siang dan akhirnya. (Perintah bertasbih pada saat-saat itu) adalah karena keutamaan dan kemulyaannya dan kemudahan beramal pada saat itu"

    فَسُبْحَانَ اللهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ
    "Maka Maha Suci Allah ketika kalian berada di waktu sore dan ketika kalian berada di waktu pagi" (QS Ar Rum 17)

    Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan: "Ini adalah tasbih (pensucian) Allah untuk diri-Nya Yang Mulia dan petunjuk kepada hamba-hambaNya untuk bertasbih dan memuji-Nya di waktu–waktu 'pergantian' yang menunjukkan atas kesempurnaan dan keagungan kekuasaanNya pada saat sore hari yaitu menjelang datangnya malam dengan kegelapannya dan ketika pagi hari menjelang bersinarnya siang karena cahaya"

    Al Abhary menjelaskan bahwa pada waktu itu Malaikat siang dan Malaikat malam berkumpul:

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan: Pada setiap hamba Allah (manusia) terdapat Malaikat yang bergantian menjaga pada malam dan siang hari. Menjaganya dari hal–hal buruk yang bisa menimpanya. Sebagaimana juga ada malaikat yang bergantian bertugas mencatat amalan-amalannya baik dan buruk, Malaikat pada waktu malam dan Malaikat pada waktu siang.

    Dua malaikat ada di kanan dan kiri mencatat amalan. Yang sebelah kanan mencatat amal kebajikan, sedangkan yang sebelah kiri mencatat amal keburukan. Dua malaikat yang lain menjaganya Satu di belakang dan satu di depan. Sehingga ada empat Malaikat di siang hari dan empat Malaikat di malam hari saling bergantian menjaga dan mencatat.

    Sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih:

    يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ اْلفَجْرِ وَصَلاَةِ اْلعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُوْلُوْنَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ
    "Saling bergantian terhadap kalian para Malaikat malam dan Malaikat siang. Mereka berkumpul di sholat fajar dan shalat 'asr kemudian Malaikat yang menginap (melewati malam) bersama kalian naik ke atas (langit) kemudian Tuhan kalian bertanya, padahal Dia lebih tahu tentang keadaan mereka: 'Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu?' Malaikat-malaikat tersebut menjawab: 'kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat' (HR Al-Bukhari – Muslim)

    Disunnahkan pula membaca dzikir-dzikir yang disyari'atkan Rasul pada saat pagi dan petang.


  4. Bacaan doa iftitah berdasarkan hadits Anas

    Doa ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, Abu Dawud dalam Sunannya, Ahmad dalam Musnadnya, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya:

    اْلحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
    "Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi padanya"


    Keutamaan Membaca Doa ini:

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh aku telah melihat 12 Malaikat yang saling berebut untuk mengangkat (kalimat) tersebut (ke langit)"

    Dijelaskan oleh para Ulama bahwa karena demikian mulianya ucapan itu para Malaikat berebut untuk mencatat dan mengangkatnya ke langit untuk ditunjukkan kepada Allah


    Rincian Makna:
    اْلحَمْدُ ِللهِ = Segala pujian hanyalah milik Allah
    حَمْدًا كَثِيْرًا = dengan pujian yang banyak
    طَيِّبًا = (pujian) yang baik
    مُبَارَكًا فِيْهِ =(pujian) yang diberi tambahan kebaikan padanya


    Penjelasan:

    Kita memuji Allah karena seluruh kebaikan bersumber dari kebaikan, fadhilah, rahmatNya. Segala pujian bermuara kepada Allah semata, Sang Pemilik Segala Kesempurnaan dalam Dzat, Sifat, dan PerbuatanNya. Sesungguhnya sekalipun kita menghimpun seluruh pujian yang bisa diucapkan oleh seluruh makhluk kepada Allah, hal itu masih tidak akan bisa mencukupi pujian yang pantas bagi Allah.

    Kita juga tidak akan bisa merangkai kalimat pujian yang mencakup keseluruhan kesempurnaan pujian tersebut. Namun, kita memujiNya sesuai dengan cara dan lafadz pujian yang dituntunkan oleh UtusanNya. Salah satunya adalah dengan doa iftitah yang bisa kita baca dalam sholat ini.

    Dalam doa ini terkandung pujian kepada Allah dengan pujian yang banyak lagi baik serta berlimpah tambahan kebaikan pujian tersebut. Makna kalimat مُبَارَكًا فِيْه dijelaskan oleh Ibnu Hajar adalah "tambahan kebaikan". Sebagaimana dalam ayat Al Qur'an disebutkan:

    وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيْهَا ... (حم السجدة/ فصلت
    "Dan Dialah (Allah) yang menjadikan gunung di atasnya (bumi) dan memberikan tambahan kebaikan padanya" (QS Haamim As Sajdah/Fusshilat 10)

  5. Bacaan yang disebutkan dalam hadits Ali bin Abi Thalib

    Bacaan ini diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, AtTirmidzi, An Nasa'i, Ad Darimi, Al Baihaqi, Ad Daruquthni, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban:

    عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِي ذُنًُوْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَاْلخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
    "Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta langit dan bumi secara lurus kepada agama yang haq dan aku bukanlah bagian dari orang-orang yang berbuat syirik. Sesungguhnya sholatku, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah milik Allah Tuhan Penguasa seluruh alam yang tidak ada sekutu bagiNya dan untuk itulah aku diperintah, dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim.

    Ya Allah, Engkaulah Raja (Penguasa) yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah berbuat dzholim pada diriku sendiri, dan aku mengakui dosaku, karena itu ampunilah dosa-dosaku seluruhnya karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.

    Dan tunjukilah aku pada akhlaq-akhlaq yang baik. Tidak ada yang bisa menunjuki pada kebaikan akhlaq kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari akhlaq yang buruk, tidak ada yang bisa memalingkan aku darinya kecuali Engkau. Aku akan berusaha tetap dalam ketaatan kepadaMu dan memperjuangkan perintahMu. Kebaikan seluruhnya ada di Kedua TanganMu, dan keburukan tidaklah dinisbatkan kepadaMu.

    Aku senantiasa berlindung padaMu dan memohon taufiq kepadaMu. Engkaulah sumber dan penentu keberkahan yang melimpah dan Engkaulah Yang Maha Tinggi. Aku memohon ampun dan bertaubat kepadaMu"


    Rincian Makna:
    وَجَّهْتُ وَجْهِيَ = aku hadapkan wajahku/tujukan ibadahku
    لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ = kepada Yang Menciptakan langit dan bumi
    حَنِيْفًا = secara lurus
    وَمَا أَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ = dan aku bukanlah termasuk orang musyrik
    إِنَّ صَلاَتِي = sesungguhnya sholatku
    وَنُسُكِي = dan ibadah/sesembelihanku
    وَمَحْيَايَ = dan hidupku
    وَمَمَاتِي = dan kematianku
    لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ = untuk Allah Tuhan seluruh alam
    لاَ شَرِيْكَ لَهُ = tidak ada sekutu bagiNya
    وَبِذلِكَ أُمِرْتُ = dan untuk itulah aku diperintah
    وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ = dan aku termasuk orang muslim
    اللَّهُمَّ = Ya Allah
    أَنْتَ اْلمَلِكُ = Engkaulah Raja (Penguasa)
    لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ = tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau
    أَنْتَ رَبِّي = Engkaulah Tuhanku
    وَأَنَا عَبْدُكَ = dan aku adalah hambaMu
    ظَلَمْتُ نَفْسِي = aku telah mendzholimi diri sendiri
    وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ = dan aku mengakui dosaku
    فَاغْفِرْ لِي = maka ampunilah aku
    ذُنُوْبِي جَمِيْعًا = (ampunilah) dosa-dosaku seluruhnya
    إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ = sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa
    إِلاَّ أَنْتَ = kecuali Engkau
    وَاهْدِنِي = dan tunjukilah aku
    لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ = kepada kebaikan akhlaq
    لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا = tidak ada yang bisa menunjukkan pada kebaikannya
    إِلاَّ أَنْتَ = kecuali Engkau
    وَاصْرِفْ عَنِّي = palingkanlah dariku
    سَيِّئَهَا = keburukannya
    لاَ يَصْرِفُ عَنِّي = tidak ada yang bisa memalingkan dari aku
    سَيِّئَهَا = keburukannya
    إِلاَّ أَنْتَ = kecuali Engkau
    لَبَّيْكَ = aku tetap dalam ketaatan kepadaMu
    وَسَعْدَيْكَ = dan memperjuangkan (tercapainya) perintahMu
    وَاْلخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ = dan kebaikan seluruhnya ada di Kedua TanganMu
    وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ = dan keburukan tidaklah dinisbatkan padaMu
    أَنَا بِكَ = aku berlindung kepadaMu
    وَإِلَيْكَ = dan memohon taufiq kepadaMu
    تَبَارَكْتَ = Engkaulah sumber dan penentu keberkahan yang melimpah
    وَتَعَالَيْتَ = dan Engkaulah Yang Maha Tinggi
    أَسْتَغْفِرُكَ = aku memohon ampunan kepadaMu
    وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ = dan aku bertaubat kepadaMu


    Penjelasan:

    Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya yang telah mengajarkan lafadz doa mulya ini melalui lisan RasulNya. Sungguh kita sangat butuh dengan kandungan yang terdapat dalam doa iftitah ini.


    Doa ini mengandung beberapa hal penting:

    • Penetapan tauhid bagi Allah

      Allahlah Pencipta, Pengatur, dan Penguasa seluruh alam semesta karena itu hanya Dialah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya. Ibadah dari seorang hamba haruslah murni untukNya, tidak dibagi dengan yang selainnya. Bahkan hidup dan mati seorang hamba harusnya dipasrahkan dan dipersembahkan untukNya semata.

      Semoga kalimat yang sudah kita pahami maknanya ini benar-benar kita hayati dalam bacaan sholat kemudian Allah memberikan taufiq kepada kita untuk melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari secara istiqomah sampai Ia tentukan saat perjumpaan kita denganNya dalam keadaan tidak menyelisihi 'ikrar' ini.


    • Pengakuan bahwa Dialah Tuhan kita dan kitalah hambaNya

      Hal ini seperti dalam pernyataan:

      أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ
      "Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu"

      Sesungguhnya predikat yang sangat mulia bagi seorang manusia adalah ketika ia berhasil menjalankan kedudukannya sebagai hamba Allah dengan sebenar-benarnya.

      Predikat sebagai 'hamba Allah' adalah predikat yang sangat mulia. Bahkan, dengan kemuliaan tersebut Allah SWT setiap kali hendak menunjukkan ketinggian kedudukan Rasulullah Muhammad SAW dan melakukan pembelaan terhadap beliau senantiasa menyebut beliau sebagai hamba-Nya.

      Anda bisa menyimak dalam ayat-ayat berikut, di antaranya:

      سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ اْلمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى اْلمَسْجِدِ اْلأَقْصَى
      "Maha Suci (Allah) Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha" (QS Al-Isra 1)

      Karena, bagaimanapun hidup seseorang, pastilah ia memilih menjadi seorang hamba. Sebagaimana dijelaskan hal ini oleh seorang ulama’ besar, Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam bait-bait syairnya. Memang benar ucapan beliau, seorang manusia memang memiliki pilihan. Namun, dia tidak akan bisa beranjak dari predikat sebagai hamba.

      Jika dia tidak mau menjadi hamba Allah; disadari atau tidak; pasti dia memilih menjadi hamba dan budak bagi yang lain, paling tidak bagi hawa nafsu dan setan.

      Jadi, sekalipun seseorang mengaku bahwa dirinya adalah suatu pribadi yang bebas, independen, serta tidak terikat dengan berbagai macam aturan, sebenarnya dia telah memilih untuk tidak menjadi hamba Allah.

      Dia lari dan berupaya keluar dari ikatan syariat dan ingin bebas, namun sebenarnya dia telah memilih menjadi budak yang lain, yaitu hawa nafsu dan syaitan. Ia sesungguhnya telah menghamba dan menyembah hawa nafsunya.

      Sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman:

      أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلهَهُ هَوَاهُ
      "Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya." (QS Al Furqan 43)

      Seseorang bisa jadi menghamba kepada setan dengan mengikuti bisikan-bisikan perintahnya dan meninggalkan aturan-aturan syariat dari Allah. Allah SWT telah memberikan bimbingan kepada kita dan mengingatkan agar tidak menyembah setan dalam firmanNya:

      أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لاَ تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
      "Bukankah Aku telah mengambil perjanjian dari kalian wahai anak Adam agar kalian tidak menyembah syaitan sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu" (QS Yasin 60)

      Setan akan senantiasa mengajak manusia untuk mensekutukan Allah dan melakukan pelanggaran terhadap syariat-syariat Allah. Seseorang yang berbuat syirik dengan menyembah berhala dan makhluk-makhluk lain selain menyembah kepada Allah, sesungguhnya ia telah menghamba kepada setan dengan mengikuti perintah setan tersebut.

      Nabi Ibrahim 'alaihissalam pernah mengajak ayahnya untuk beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan sikap menyembah berhala-berhala, yang itu juga berarti menghamba kepada setan dalam ucapan beliau yang diabadikan dalam Al Qur'an:

      ياَ أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمنِ عَصِيًّا
      "Wahai ayahandaku, janganlah engkau menyembah setan, sesungguhnya setan sangat durhaka kepada Ar Rahman" (QS Maryam 44)

      Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya: "artinya janganlah mentaatinya untuk beribadah kepada berhala-berhala".

      Setiap manusia sebenarnya dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan berdasarkan fitrah tersebut ia mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan Penguasa segalanya dan satu-satunya yang berhak dia sembah dan hanya kepadaNya ia menghamba.

      Setiap orang dilahirkan dalam keadaan demikian. Namun, dalam perkembangan hidupnya, walaupun ia tidak bisa sepenuhnya memungkiri kebenaran nuraninya tersebut, seringkali kesombongan dan kecongkakan menjadikan ia tidak mau terang-terangan mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan sekaligus satu-satunya sesembahan.

      Bahkan, Fir'aun yang mengaku sebagai 'Tuhan Yang Paling Tinggi', sebenarnya dalam hatinya masih mengakui dakwah Nabi Musa bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam dan hanya kepadaNya semua ibadah seorang hamba wajib dipersembahkan.

      Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengkabarkan kepada kita bahwa Fir'aun dalam hatinya sebenarnya mengakui, namun kesombongan menghambatnya:


      وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّا
      "Dan mereka menentangnya, padahal hati mereka mengakuinya, (tetapi karena) dzhalim dan sombong" (QS An Naml 14)

      Bahkan, Fir'aun yang menyebut dirinya Tuhan tersebut sangat tidak percaya diri dan masih membutuhkan dzat tempat bergantung dan berlindung saat tertimpa kekalutan-kekalutan hatinya.

      Al-Hasan Al Basri mengatakan: "Fir'aun memiliki sesembahan tersendiri yang ia menyembahnya di saat sendirian".

      Dalam riwayat lain, beliau menyatakan: "Fir'aun memiliki sebuah mutiara yang dikalungkan di lehernya, yang ia senantiasa bersujud pada mutiara tersebut".

      Maka tempat bergantung kita dan sesembahan kita satu-satunya adalah Allah semata, yang dalam bacaan iftitah ini kita mengikrarkannya dalam ucapan وَأَنَا عَبْدُكَ (dan aku adalah hambaMu, Ya Allah).

      Kita seharusnya memilih untuk hanya menjadi hamba Allah semata serta berupaya semaksimal mungkin mewujudkan diri kita sebagai seorang yang benar-benar menjadi hamba Allah. Untuk memurnikan ke-hambaan kita kepadaNya, kita menghamba kepada Allah dengan perasaan tunduk, cinta, dan pengagungan, bukan dengan perasaan terpaksa.


    • Pengakuan bahwa kita telah mendzhalimi diri sendiri

      Kita telah berbuat dosa serta mengharap ampunan dari Allah karena kita yakin Dialah satu-satunya yang bisa mengampuni dosa.

      Ungkapan tersebut terdapat dalam lafadz:

      ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
      "Aku telah mendzhalimi diri sendiri dan aku mengakui perbuatan dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau"

      Sungguh indah sekali bimbingan Allah bagi orang yang berdosa untuk meminta ampunan kepadaNya semata, dengan pengakuan bahwa ia telah mendzholimi diri sendiri dengan perbuatan dosa tersebut.

      Sebagaimana Allah mengajarkan kepada Nabi Adam kalimat taubat, yang di dalamnya terkandung pengakuan bahwa ia telah mendzholimi diri sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an:

      قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
      "Mereka berdua (Adam dan Hawa) berkata: 'Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendzhalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi" (QS Al-A'raf 23)

      Pengakuan dosa seorang hamba yang dosanya terkait antara dirinya dengan Allah memang hanya disampaikan kepada Allah, tidak kepada makhluk lain, bahkan disyariatkan untuk dirahasiakan.

      Jika kita telah melakukan perbuatan dosa yang itu bukan merupakan dosa kita kepada sesama manusia, maka kita harus menyembunyikan dan tidak memberitahukan kepada orang lain bahwa kita telah melakukan perbuatan dosa tersebut.

      Berkaitan dengan hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

      كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَى إِلاَّ اْلمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ اْلمُجَاهِرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ اْلبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ باَتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتْرَ اللهِ عَنْهُ
      "Semua ummatku dimaafkan kecuali al-Mujaahiriin, yaitu seseorang yang berbuat dosa pada malam hari kemudian pada pagi harinya; padahal Allah telah menutupi aibnya itu; dia berkata: 'Wahai fulan, tadi malam aku berbuat ini dan itu. Padahal malam harinya Allah telah menutup aibnya, pada pagi harinya ia membuka penutup aib dari Allah untuknya tersebut" (HR Al-Bukhari-Muslim dalam Shahihnya)

      Imam As Suyuthi menjelaskan: "Al Mujaahirin adalah seseorang yang menampakkan perbuatan kemaksiatannya dan menceritakan kepada orang lain"

      Berbeda dengan orang-orang Nasrani yang meyakini adanya pengakuan dosa di hadapan para pendeta dan mereka berkeyakinan pula bahwa dengan pengakuan dosa tersebut dosa mereka akan terampuni, kaum muslimin hanya meyakini Allah-lah satu-satunya yang bisa mengampuni dosa.


    • Mohon petunjuk akhlak yang baik

      Permohonan petunjuk kepada akhlaq-akhlaq yang baik dan mohon dijauhkan dari akhlaq-akhlaq yang buruk, disertai keyakinan bahwa hanya Allah saja yang bisa memberi taufiq dan memalingkan dari hal-hal yang demikian.

      Hal ini terkandung dalam ucapan:

      وَاهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ
      "Dan tunjukilah aku pada akhlaq-akhlaq yang baik. Tidak ada yang bisa menunjuki pada kebaikan akhlaq kecuali Engkau. Dan palingkanlah aku dari akhlaq yang buruk, tidak ada yang bisa memalingkan aku darinya kecuali Engkau"

      Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan akhlaq yang baik termasuk bagian dari ketaqwaan seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam ayat:

      أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ
      "(Surga) disediakan bagi orang yang bartaqwa. Yaitu orang yang menginfaqkan hartanya di waktu lapang dan kesempitan dan yang mampu menahan marah serta bersikap pemaaf kepada manusia" (QS Ali Imran 133-134)

      Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits:

      أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
      "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya" (HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)


      إِنَّ اْلمُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الصَّائِمِ وَاْلقَائِمِ
      "Sesungguhnya seorang mukmin dengan kebaikan akhlaqnya bisa mencapai derajat orang-orang yang (banyak) berpuasa dan (banyak) melakukan qiyamullail" (HR Ahmad, Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)


      أَكْثَرُمَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ
      "(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik" (HR Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Hibban)


      أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
      "Aku menjamin rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya" (HR Abu Dawud dan At Thabrani dan dihasankan oleh At Tirmidzi)

      Para Ulama Salaf mendefinisikan akhlaq yang baik, diantaranya:

      Al-Hasan al-Bashri mengatakan: "Akhlaq yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimal (memaafkan)"

      Asy Sya'bi menjelaskan: "Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis"

      Ibnul Mubarok mengatakan: "Akhlaq yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma'ruf), dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain"

      Dalam hadits disebutkan:

      مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤمِن كُربَةً مِن كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُربَةً مِنْ كرَبِ يَوم القيامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ على مُعسرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُّنيَا والآخِرَة، وَمَنْ سَتَرَ مُسلِمَاً سَتَرَهُ الله في الدُّنيَا وَالآخِرَة، وَاللهُ في عَونِ العَبدِ مَا كَانَ العَبدُ في عَونِ أخيهِ
      "Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan hilangkan kesusahannya nanti pada yaumul qiyaamah, dan barangsiapa yang memberikan kemudahan pada seseorang yang kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan menolong hambaNya jika hamba tersebut menolong saudaranya" (HR Muslim)


      لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ اْلمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تلْقى أَخاَكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ
      "Janganlah sedikitpun meremehkan kebaikan walaupun itu sekedar berwajah manis (berseri-seri) pada saudaramu" (HR Muslim)


      اْلمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
      "Seorang muslim (sejati) adalah yang muslim lain selamat dari tangan dan lisannya (tidak menyakiti)" (HR Al-Bukhari - Muslim)


      وَاللهِ لاَ يُؤْمِن وَاللهِ لاَ يُؤْمِن وَاللهِ لاَ يُؤْمِن قِيْلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارهُ بِوَائِقِهِ
      "Demi Allah tidaklah beriman, Demi Allah tidaklah beriman, Demi Allah tidaklah beriman. Para Sahabat bertanya, 'siapa wahai Rasulullah?' Rasul bersabda, 'orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya" (HR Al-Bukhari - Muslim)

      Salah satu hal yang memudahkan seseorang berakhlaq mulia adalah hendaknya seseorang ikhlas karena Allah semata ketika mengamalkan akhlaq mulia.

      Ia berakhlaq baik bukan untuk tujuan dipuji manusia, atau agar manusia membalas kebaikannya dengan kebaikan. Ia berupaya untuk menjalankan akhlaq mulia adalah semata-mata mengharap keutamaan-keutamaan dari Allah berupa kesempurnaan iman, kecintaan Allah, beratnya timbangan amal kebaikan, dan dekatnya kedudukan dengan Rasulullah nanti di surga, serta keutamaan-keutamaan semacam itu.

      Karena itu, ia tidak akan merasa menyesal jika perbuatan akhlaq baiknya tidak dibalas dengan kebaikan oleh orang lain.


      إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
      "Kami memberikan makanan ini kepada kalian hanyalah untuk (mengharap) Wajah Allah, kami tidak menginginkan balasan atau ucapan pujian dari kalian" (QS al-Insan 9)

    • Senantiasa Taat

      Pernyataan bahwa kita akan berusaha senantiasa dalam ketaatan kepada Allah dan berupaya memperjuangkan terlaksananya perintahNya, sebagaimana dalam lafadz:

      لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ
      "Aku akan berusaha tetap dalam ketaatan kepadaMu dan memperjuangkan (terlaksananya) perintahMu"

      Hal ini semakna dengan lafadz yang diucapkan jika kita membaca sayyidul istighfar:

      .....وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ .....
      "...Aku akan senantiasa berusaha memenuhi perjanjian denganMu semaksimal mungkin yang aku bisa..." (HR Al Bukhari)

    • Kebaikan bersumber dari Allah

      Pernyataan bahwa kebaikan seluruhnya bersumber dari Allah, sedangkan keburukan tidaklah dinisbatkan kepadaNya, terdapat dalam lafadz:

      وَاْلخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ
      "Kebaikan seluruhnya ada di Kedua TanganMu, dan keburukan tidaklah dinisbatkan kepadaMu"

      Imam AnNawawi menjelaskan makna kalimat ini, "Al Khattaby dan (ulama) yang lain menyatakan: dalam kalimat ini terkandung adab dalam memuji Allah, yaitu dengan menisbatkan seluruh kebaikan-kebaikan berasal darinya, sedangkan kejelekan tidak dinisbatkan kepadanya, sebagai bentuk adab (kepada Allah).

      Adapun perkataan وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ wajib ditafsirkan, karena berdasarkan madzhab ahlul haq sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi berdasarkan perbuatan Allah dan ciptaanNya semuanya, baik ataupun buruk. Karena itu wajib ditafsirkan.

      Dalam hal ini ada 5 perkataan dari para ulama tentang tafsir perkataan ini:

      1. Keburukan (kejahatan) tidaklah bisa digunakan untuk bertaqarrub kepadaMu
      penafsiran ini disebutkan oleh al-Khalil bin Ahmad, Nadhr bin Syumail, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Ma'iin, Abu Bakr bin Khuzaimah, dan al-Azhary.

      2. Tidaklah keburukan dinisbatkan kepadaMu dalam penyebutan tersendiri
      Sehingga tidaklah boleh dikatakan: Wahai Pencipta monyet dan babi, atau Wahai Tuhannya kejahatan, dan yang semisalnya walaupun tetap diyakini bahwa Allah-lah Pencipta segala sesuatu dan Tuhan segala sesuatu sehingga keburukan juga masuk dalam keumumannya. Penafsiran ini disebutkan oleh Asy Syaikh Abu Hamid dari al-Muzani.

      3. Keburukan (kejahatan) tidaklah naik menujuMu
      sesungguhnya yang naik kepadaMu adalah kalimat yang baik dan amal Shalih

      4. Keburukan tidaklah berarti buruk jika dinisbatkan kepadaMu
      karena sesungguhnya Engkau menciptakannya sesuai hikmah yang sempurna, keburukan itu hanyalah jika dinisbatkan kepada para makhluk’

      5. Pendapat al-Khattaby
      seperti ucapan seseorang: Fulan ila bani fulan, yang artinya jika ia memilihnya (artinya, Allah tidak memilihkan keburukan bagi hambaNya)

Berlangganan