Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karomah Batu Tempat Kepala Sayyidina Hussein yang Terpenggal

Karomah Batu Tempat Kepala Sayyidina Hussein yang Terpenggal

Masjid al-Nuqtah terletak di kota Alleppo, sebuah kota di Suriah yang berjarak sekitar 360 km dari kota Damaskus. Sebelum datangnya Islam, tempat ini adalah sebuah biara yang terdiri dari 2 buah ruangan yang diberi-nama Mart Ruta Monastery.

Ketika rombongan Imam Ali Zainal Abiddin As-Sajjad as (putra Imam Husein) dan Zainab as (adik Imam Husein) beserta rombongan wanita dan anak-anak datang dari Kufah dan Karbala ke Syam, rombongan itu berhenti di Aleppo untuk beristirahat.

Para biarawan dan pendeta melihat jelas bahwa ada cahaya terang yang keluar dari kepala Imam Husein as yang diarak oleh tentara Yazid yang mengawal rombongan dari keluarga Nabi itu. Kejadian itu terjadi pada tahun 61H.

Ketika para biarawan dan pendeta tahu bahwa para tawanan yang dibawa itu adalah sisa-sisa keluarga Nabi, mereka meminta para pengawal itu untuk memberikan kesempatan merawat kepala Imam Husein.

Namun untuk itu, para pendeta dari biara itu harus mengeluarkan uang sebesar 10.000 dirham. Seorang pendeta yang memiliki pengetahuan luas mengambil kepala Imam Husein as dari para pengawal (tentara Yazid) dan meletakkannya di atas sebuah batu untuk dicuci. Rambutnya disisir serta diberi minyak wangi.

Betapa besar penghargaan yang diberikan oleh seorang Nasrani untuk kepala suci dari cucu sang nabi. Betapa kecil penghormatan yang diberikan oleh kaum Muslimin waktu itu, kepada sisa keluarga Nabi yang ditawan dan dibelenggu.

Pendeta itu terus berdoa di depan kepala Imam Husein itu hingga subuh menjelang kemudian memberikan kembali kepala itu kepada para tentara Yazid. Pendeta itu sendiri konon langsung memeluk Islam tidak lama setelah kejadian itu.

Sejak malam itu hingga beberapa hari kemudian darah segar senantiasa keluar dari batu itu. Setelah rombongan tawanan keluarga Nabi pergi dari biara, kembali pendeta tersebut melantunkan doa-doa mengenang cucu Nabi.

Sementara batu itu tetap mengeluarkan darah segar hingga memerah karena darah yang tercurahkan dari kepala "Pemimpin Para Syuhada". Batu tersebut tetap bersemayam di biara ini dari awal bulan Safar tahun 61H hingga tahun 333H.

Foto Masjid Al Nuqtah

ketika Raja Sifoddowie Hamdani (seorang pengikut Ahlul Bayt Nabi) memasuki Aleppo dan memutuskan untuk menjadikan kota itu sebagai ibu kota, sang raja sering menjenguk batu itu dan sampai detik itu pula masih mengeluarkan darah segar.

Ia akhirnya memutuskan untuk membangun tempat itu untuk menghormati batu yang mengeluarkan darah sebagai tanda kebesaran Allah di muka bumi ini. Bahkan hingga saat ini batu itu masih mengeluarkan darah segar.

Pada pertengahan abad keempat Hijriah, bangunan indah yang ditujukan untuk menghormati batu itu telah berdiri dan menjadi tempat ziarah bagi para pecinta cucu Nabi (Imam Husein). Tempat itu dikenal sebagai "Masjid Al-Nuqtah" yang berarti "Masjid tempat darah tercurah".

Pada tahun 1333H ketika para penguasa Ottoman (Khilafah Utsmaniyyah) menguasai kawasan ini, mereka melarang orang-orang yang hendak berziarah ke tempat ini. Mereka malah menggunakan tempat ini untuk menyimpan amunisi dan senjata selama masa perang.

Hingga pada akhirnya kekhalifahan Ottoman mengalami kemunduran dan lemah dalam segala bidang, pada saat itulah tentara sekutu bermaksud untuk menyerang kota Aleppo.

Puncaknya timbul kekacauan besar pada tanggal 20 Muharram 1337H. Masjid yang dipenuhi oleh amunisi senjata dan mesiu itu tiba-tiba meledak. Gedung yang indah ini hancur berkeping-keping dan kepingannya berserakan di mana-mana.

Keajaiban terjadi dimana batu yang berdarah itu tetap berada di tempatnya dan beberapa batu yang besar berkumpul di sekelilingnya seolah-olah ingin melindungi batu itu.

Sungguh itu merupakan suatu tanda kebesaran ilahi. Beberapa ulama lalu mengambil batu itu dan membawanya ke Masjid Zakaria yang ada di kota itu. Namun batu itu sering menunjukkan keganjilan.

Batu itu seringkali bergerak-gerak sehingga membuat ketakutan para ulama dan santrinya sehingga mereka memutuskan untuk menempatkan batu itu di atas punggung seekor kuda dan membiarkan kuda itu membawanya kemanapuin ia suka.

Kuda itu membawa batu suci itu ke tengah-tengah kota Aleppo menuju tempat dimana batu itu dulu ditempatkan, yaitu di Masjid Al-Nuqtah yang pada waktu itu dalam keadaan hancur berkeping-keping setelah meledak.

Karena tempat itu rusak, maka kuda itu yang seolah-olah memiliki kehendak sendiri membawa batu itu ke tempat pemakaman bayi Imam Husein, Muhsin. Batu itu pun akhirnya disimpan di sisi makam Muhsin.

Tempat suci itu tetap dalam keadaan hancur selama masa-masa sulit setelah peperangan berlangsung hingga tahun 1379H. Pada tahun itu ada sebuah organisasi bernama "Jafari Islamic Rebuilding Society" yang berencana untuk membangun kembali masjid itu sesuai dengan bentuk aslinya dulu.

Mengapa husein tidak mendapat kain kafan

Dan dengan rahmat dan kebesaran Allah serta keinginan kuat dari orang-orang yang bersedia menyumbangkan tenaga dan hartanya serta bantuan moril dan materil dari para ulama, maka mereka bisa membangun kembali tempat itu dengan mengikuti bentuknya yang lama.

Anehnya mereka juga tetap bisa menggunakan batu-batuan yang dulunya digunakan untuk membuat Masjid bersejarah itu. Dengan batuan yang sama (yang dulu berserakan setelah ledakan) mereka berhasil membangun Masjid itu seperti sedia kala

Labbaika ya Hussein. Semoga bermanfaat.

Berlangganan