Cerita Horor KKN di Desa Penari (Bag.5)

Cerita Horor KKN di Desa Penari (Bag.5)
Cerita Horor KKN di Desa Penari bagian 5

Jalan setapak itu tidak terlalu lebar, di kanan-kirinya ditumbuhi rumput dan semak-semak yang tingginya hampir sebahu Widya. Dari sela-selanya Widya bisa melihat hutan yang sebenarnya. Pohon yang menjulang tinggi dengan tumbuh-tumbuhan disekitarnya yang tak tersentuh.

Sangat mudah mengikuti Bima karena hanya tinggal mengikuti jalan setapak yang ada. Namun setiap kali Widya berjalan, dari balik semak atau rerumputan seperti ada yang bergerak-gerak seolah mengikutinya. Kadang ketika Widya mencoba mencari tahu, sesuatu itu lenyap begitu saja.

Tanahnya keras dan lembab, Widya terus menembus jalanan itu. Semakin lama udaranya semakin dingin. Tak terhitung sudah berapa kali Widya berhenti untuk menghela nafas panjang.

Jalanan ini sepeti tidak berujung. Tapi jika ia kembali, Widya tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan Bima disini. Hal yang disesali Widya hanya satu, ia hanya mengenakan sandal selop. Memang, apa yang ia lakukan malam ini hanya spontan karena penasaran. Tanpa persiapan, tanpa teman. Dan penyesalan itu kian bertambah saat Widya mulai mendengar suara gending. Ya, suara yang familiar.

Nada yang dimainkan adalah kidung yang Widya dengar saat ia berada di bilik kecil tempat mandi bersama Nur. Sedangkan alunan gamelan yang dimainkan adalah alunan yang sama saat Widya mencuri pandang pada penari di malam dia bersama Wahyu.

Bukannya lari, Widya semkain penasaran. Semakin dekat, suaranya semakin jelas. Seolah menunjukkan bahwa disana Widya tidak sendirian. Namun yang dilihatnya di ujung Tipak talas itu adalah sebuah tanaman yang ditanam tepat di jalan setapak. Tanaman adalah beluntas.

Tanamannya kecil, tapi rimbun. Di samping kiri dan kanannya sudah tidak bisa dilewati, kecuali bila membawa parang. Tanaman beluntas itu seharusnya berbau langu atau tengik . Tapi beluntas yang ini wanginya seperti aroma melati.
Seolah tidak sadar, Widya sudah mengunyah daun itu. Dia terus mengunyah sampai ia sadar tenggorokannya tersayat batang beluntas yang tajam.

Di balik beluntas itu Widya melihat jalan menurun. Pantas saja, ia hanya bisa melihat ujung jalan setapak terhenti di sini. Jadi jalannya menurun tertutup oleh banyak sekali tanaman beluntas. Saat Widya menuruninya, ia sampai harus berdarah-darah meraih tanaman beluntas yang terlilit seperti tali puteri.

Di bawah, dia melihat Sanggar yang diceritakan Ayu dulu. Sanggarnya benar-benar berantakan. Ada 4 pilar kayu jati yang dipangkas persegi, memanjang ke atas dengan atap mengerucut. Dari jauh terlihat seperti bangunan balai desa, tapi lebih besar dengan lantai panggung yang tinggi.

Disana, suara gamelan terdengar jelas sekali. Sepertinya sumber suara gamelan itu berasal dari bangunan ini. Saat Widya mendekatinya, ia merasa tidak sendirian. Tempat ini seperti ramai, penuh sesak, padahal tak ada siapapun di sana. Hanya dia sendirian.

Tepat ketika Widya menginjak anak tangga pertama, suara gamelan itu terhenti. Suasananya menjadi sunyi senyap, hening sekali. Keheningan itu benar-benar mengganggu Widya, kehadirannya seperti tidak diterima di sini.

Namun Widya memaksa untuk tetap lanjut naik, dan saat itu Widya mendengar suara seseorang sedang menangis. Suaranya familiar, seperti suara orang yang pernah ia kenal. Ayu.

Widya jadi teringat sesuatu yang paling ganjil selama KKN di sini, Ayu. Ayu tak pernah sekalipun bercerita tentang desa ini, atau tentang hal-hal ganjil yang pernah menganggunya. Sebaliknya, Ayu menentang semua hal yang tidak masuk akal di desa ini.

Di malam pertama di desa ini ketika mereka berdebat tentang suara gamelan, Ayu pasti berbohong. Ayu sebenarnya juga tahu dan mendengarnya secara langsung. Ayu lebih tahu tentang semua ini, jauh di atas yang lain, termasuk apa yang Bima lakukan selama ini.

Seperti menangkap angin, ada suara tangisnya namun tak ada wujudnya dimanapun Widya mencari. Tetapi di tempat sesunyi dan sesepi itu, masih terasa ramai bagi Widya, seperti ia sedang diawasi dari berbagai sudut.

Widya melihat dari jauh, di bawah sanggar ada sebuah gubuk yang berpintu.
Widya mencoba mendekatinya, namun ia enggan membukanya. Ia mengelilingi gubuk itu. Dari dalam gubuk terdengar suara Bima, diikuti suara perempuan yang mendesah. Sangat jelas, namun Widya tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.

Leher Widya perlahan semakin berat, dan berat. Saat Widya bersusah payah mencari cara untuk melihat, ia menemukan celah kecil untuk mengintip. Dari sana Widya melihat langsung, Bima sedang berendam di Sinden. Di sekitarnya, ia dikelilingi banyak ular besar.

Melihat kejadian itu Widya kaget. Sialnya, Bima menatap lurus ke tempat Widya mengintip. Semua ular itu juga sepertinya tahu, ada tamu tak diundang. Melihat reaksi seperti itu, Widya berbalik dan berlari menjauhi tempat itu.

Saat lari itulah suara tabuhan gong yang diikuti suara kendang terdengar lagi. Suara gamelan itu terdengar keras, lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan. Widya menoleh ke Sanggar kosong itu, disana dipenuhi sosok makhluk yang tak ia lihat sebelumnya.

Dari ujung ke ujung penuh sesak, banyak sekali yang melihat Widya. Ada yang melotot, ada yang wajahnya hanya separuh, bahkan ada yang tidak punya wajah. Sosoknya dari yang pendek sampai yang tingginya setinggi pohon beringin, mereka memenuhi Sanggar itu dan sekitarnya. Widya mulai menangis.

Tiba-tiba suara suara yang nyaris memekakkan telinga itu berhenti. Widya melihat, di depannya ada yang sedang menari. Tariannya membuat semua sosok makhluk itu melihatnya. Yang menari itu Ayu.

Mata Ayu tampak sembab seperti habis menangis. Tapi ekspresi wajahnya seperti menyuruh Widya lari. Tanpa tahu apa yang sedang terjadi, Widya langsung lari, melewati kerumunan sosok makhluk halus yang sedang melihat Ayu menari di sanggar.

Widya memanjat tempat itu sambil menangis sejadi-jadinya. Sampai di jalan setapak, Widya mendengar suara anjing menggonggong. Tak berapa lama, seekor anjing hitam keluar dari semak belukar. Saat melihat Widya, anjing itu lari. Widya mengikuti anjing itu.

Widya keluar dari jalan setapak itu ketika hari sudah subuh, terlihat dari warna langit yang kebiruan. Tapi ternyata ia salah.

Seorang warga desa kaget bukan main saat melihat Widya. Dia langsung lari sambil berteriak memanggil seluruh warga kampung. "Widya di sini! Ini Widya sudah kembali"

Widya yang kebingungan dipeluk oleh para warga yang datang berhamburan.

"Kesini, nak. Kesini. Kamu yang sabar ya? Kamu harus siap mendengar berita ini" seorang ibu memeluk Widya. Di matanya ia seperti menahan tangis. Widya hanya mengangguk, diam tidak mengerti.

Si ibu menggandeng Widya sedangkan ia masih diam seperti orang linglung. Di jalan ramai warga desa yang mengikutinya. Widya mencuri dengar dari mereka yang berbicara di belakang.

"Sudah dicari sampai ke alas D, nggak tahunya mau Maghrib ketemu. Aku sudah mikir jelek tadi"

Widya rupanya sudah menghilang selama sehari semalam. Ketika Widya sampai di rumah penginapan mereka, Widya melihat banyak sekali orang berkumpul. Saat mereka melihat Widya, semua tercengang seperti melihat hantu.

Lalu dari dalam terlihat pak Prabu keluar. Wajahnya mengeras melihat Widya, dengan tatapan melotot melihat Widya dia bertanya, "Darimana kamu nak?"

Widya tidak menjawab apa yang pak Prabu tanyakan. Si ibu juga menenangkan pak Prabu sembari menggiring Widya masuk ke dalam rumah. Widya mendengar Nur menjerit dan menangis seperti kesetanan.

Saat Widya masuk ke dalam, ia melihat ruangan itu dipenuhi orang yang duduk bersila. Mereka mengelilingi 2 orang yang tidur terbujur, badannya ditutup selendang dan diikat dengan tali putih. Wahyu dan Anto menatap kaget saat Widya masuk.

"Wid, kamu darimana?" ucap Nur yang langsung berdiri memeluk Widya.

"Ada apa ini, Nur?" tanya Widya tak kalah heran.

Nur menutup mulutnya, ia tak tahu harus mulai dari mana. Wahyu berdiri, "Ayu, Wid."

Widya melihat Ayu yang terbujur kaku, matanya tidak bisa ditutup. Di sampingnya ada Bima, ia terus menendang-nendang dalam posisi terikat itu. Gerakannya seperti orang yang terkena epilepsi, matanya kosong melihat langit-langit. Mereka berdua terbaring tidak berdaya. Sontak Widya ikut menjerit.

Mbah Buyut keluar dari dapur. Ia melihat Widya kemudian memanggilnya.

"Kesini nak. Mbah baru saja selesai membuat kopi"

Mbah Buyut duduk di kursi kayu yang ada di dapur. Ia melihat Widya lama, kemudian membuka suaranya.

"Temanmu sudah kelewatan"

"Maksudnya, mbah?" Widya tak paham pernyataan mbah Buyut.

"Gimana rasanya dikerubungi makhluk halus satu hutan?"

Mbah Buyut masih mengaduk kopinya, sesekali memandang Widya yang tampak mulai kembali kesadarannya.

"Nih, diminum dulu"

Widya menyesap kopi dari mbah Buyut. Tiba-tiba suatu rasa pahit yang menohok tenggorokan membuat Widya seperti dicekik. Widya memuntahkan kopi itu. Widya melihat mbah Buyut tampak mengangguk seperti sedang memastikan.

"Temanmu melanggar pantangan yang paling berat. Pantangan yang tidak bisa diterima manusia juga golongan makhluk halus" kata mbah Buyut sembari menggelengkan kepalanya.

"Paham, nak?"
Widya mengangguk.

"Sinden yang kamu kerjakan untuk KKN itu kembar. Yang satu dekat sungai, satu lagi di tempat yang kemarin malam kamu datangi"

"Tahu kegunaan Sinden?" lanjut mbah Buyut.

"Tidak tahu mbah"

"Sinden itu tempat mandinya para penari sebelum tampil. Nah, Sinden yang dekat sungai tidak apa-apa dikerjakan. Tapi yang satunya tidak boleh didatangi, apalagi dipakai tempat mesum"

"Widya tahu, siapa yang ada di sinden itu?"

Widya diam lama, lalu ia menjawab. "Ular mbah"

"Iya, betul. Yang kamu lihat itu ular, anaknya Bima sama..."

"Ular itu mbah?" potong Widya cepat. Mbah buyut mengangguk.

"Itu begini, mbah yang kecolongan. Widya cuma dijadikan pengalih perhatian agar simbah mengawasi Widya. Tapi mbah salah. Temanmu itu yang dari awal sudah diincar sama...."

Mbah Buyut terdiam lama, dia seperti tidak mau menyebut nama makhluk itu.

"Lalu gimana, mbah? Apa Ayu sama Bima bisa kembali?"

"Bisa, bisa" kata mbah Buyut. "Sampe bencananya diangkat"

"Bencananya diangkat?" tanya Widya, bingung.

"Bima dan Ayu sudah kelewatan. Sekarang mereka harus menanggung apa yang sudah diperbuat."

"Ayu sekarang harus menari, mengelilingi seluruh hutan ini. Selalu menar, di setiap jengkal tanah ini" ujar mbah Buyut.

"Lalu Bima, mbah?"

"Bima harus mengawini yang punya Sinden"

"Badarawuhi ya mbah?"

Mbah buyut kaget mendengar nama itu keluar dari mulut Widya. "Oh, begitu. Sudah tahu namanya rupanya."

"Badarawuhi itu salah satu penunggu hutan ini. Tugasnya dia menari. Para makhluk halus itu suka melihat Badarawuhi menari. Nah sekarang, Ayu harus menggantikan tugasnya"

"Bima harus mengawini Badarawuhi. Anaknya itu berwujud ular. Sekali melahirkan, bisa lahir ribuan ular"

"Salah mereka sendiri, sudah melakukan hal bodoh disana. Jadi sekarang mereka harus menanggung akibatnya"

"Badarawuhi itu ratunya ular, bangsa lelembut titisan Aji Sapto. Kutukannya tak terelakkan apalagi sampai dilepaskan. Besok pagi mbah coba bicarakan baik-baik. Takutnya, temanmu tidak bisa kembali hidup-hidup."

Mbah buyut beranjak pergi. Nur, Wahyu, dan Anton melihat Widya sendirian di dapur. Duduk, sembari termenung.

"Goblok! Bima sama Ayu kurang ajar! Kebanyakan mesum!" Wahyu bersumpah serapah dengan raut wajah kesal.

Meski kalimat yang diucapkan Wahyu itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu. Terlebih, masalah ini sudah sampai ke pihak kampus, bahkan ke keluarga Bima dan Ayu.

Pak Prabu memberitahu bahwa kejadian ini tidak bisa mereka sembunyikan. Seluruh kegiatan KKN ini menjadi tanggung jawab beliau jadi harus sampai ke semua orang yang terlibat. Awalnya Nur mencoba memohon agar masalah ini jangan sampai keluar dulu. Namun hilangnya Widya, membuat Pak Prabu akhirnya menyerah dan memilih melaporkannya.

Lalu apa yang terjadi sama Ayu dan Bima? Keesokan harinya, serombongan mobil datang. Mereka adalah keluarga sekaligus panitia KKN yang sudah mendengar semua ceritanya dari pak Prabu.

Ayu masih terbaring. Matanya melotot, tubuhnya seperti orang lumpuh. Sedangkan Bima masih kejang-kejang seperti saat Widya melihatnya kemarin malam. Mereka semua dijemput paksa, dan seluruh kegiatan KKN mereka dicoret.

Pihak keluarga Bima maupun Ayu marah besar, mereka tidak terima anaknya menjadi seperti ini. Pihak kampus juga bereaksi karena kasusnya hampir dibawa ke media nasional.

Widya dan Nur sampai memohon agar Ayu dan Bima dibiarkan tetap tinggal di desa ini untuk sementara. Kata Mbah Buyut, bisa saja kutukannya ditarik sewaktu-waktu. Tapi dari pihak keluarga Ayu dan Bima menolak, mereka tetap membawa mereka berdua pulang ke rumah masing-masing. Hasilnya?

Ayu hanya bisa tidur dengan mata terbuka terus menerus. Widya pernah diceritakan oleh ibunya bahwa kadang, ia melihat mata Ayu meneteskan air mata. Tapi setiap ditanya, Ayu hanya diam tak menjawab. Ayu akhirnya meninggal setelah 3 bulan dirawat.

Kakak Ayu yang merasa bersalah bahkan sampai hampir mengamuk di desa itu. Namun pak Prabu pun sama, seharusnya sejak awal saat Ayu memohon di ijinkan KKN disana, ia tegas menolak. Alasannya, desa itu memang tidak cocok ditinggali oleh mereka yang masih bau kencur.

Bima??

Nasib Bima tidak lebih baik. Ia juga meninggal. Pada malam sebelum dia meninggal, Bima berteriak-teriak minta tolong. Ketika ditanya, kenapa dan minta tolong apa? Bima berteriak ular, ular, ular.

Bima meninggal lebih dulu dari Ayu, orang tuanya awalnya akan memperpanjang
masalah ini lewat jalur hukum. Tapi pada akhirnya dicabut, dengan catatan KKN berikutnya tidak lagi diadakan di wilayah timur Jawa lagi.

Jadi sejak saat itu, kampus ini hanya memperbolehkan KKN ke arah barat. Sekalipun ada, tidak sampai ke pelosok Desa yang jauh.

Dalam cerita ini, narasumber Widya disamarkan. Setiap kali bercerita, beliau hanya menceritakan intinya. Gue harus mengatur ulang ceritanya agar nyambung. Terlepas dari itu gue inget, setiap beliau cerita, tangannya gemetar seperti tidak mau mengingat peristiwa itu.

Gue berharap cerita ini mengandung hikmah bagi kalian yang membacanya. Peserta KKN-nya pun sebenarnya bukan 6 orang, tapi 14 orang. Gue perpendek untuk mempersingkat cerita beliau yang saling berkaitan satu sama lain.

Manusia itu merasa besar, padahal sesungguhnya ada kebesaran lain yang membuat manusia nggak ada apa-apanya di balik kalimat kecil. Dimanapun kalian berada, junjung tata krama, saling menghormati, saling menjaga satu sama lain, dan senantiasa bersikap layaknya manusia yang beradab.