Cerita Misteri Pesugihan: Kampung Tumbal (Bag.1)

Cerita Misteri Pesugihan: Kampung Tumbal (Bag.1)
Cerita Misteri Pesugihan - Kampung Tumbal (Bag.1)
Pada kesempatan ini kami akan membagikan sebuah kisah nyata yakni cerita misteri pesugihan bertajuk Kampung Tumbal. Cerita ini telah menjadi viral di Twitter karena sangat seram dan membuat bulu kuduk merinding.

Kejadiannya sendiri tidak terlalu lama dan terjadi di sebuah daerah di Jawa Tengah. Cerita yang pertama kali dituliskan oleh akun @Asal01012 ini kemudian kami tulis ulang dengan beberapa perubahan kalimat tanpa mengubah susunan cerita. Selamat membaca.

Sesuai janjiku akan berbagi cerita horor yang dialami adik kandungku, Andin. Jadi kali ini aku jadi Andin, yaa.. Biar enak ceritanya. hehe

Buat yang selalu nanya kok ceritanya dikit banget sih? Gini yaa.. apa yang aku tulis ini selalu real kisah nyata, jadi nggak mungkin bersambung atau berpart-part. hehe. Aku juga nggak nambahin atau ngurangin cerita yang aku alami.

Dan soal bahasa, aku selalu gunain bahasa non-formal, biar asik aja kalian yang baca. Terlalu formal nanti malah berbelit-belit. hihi. Balik ke cerita..
Males banyak omong.

Perkenalkan aku Andin, cerita ini terjadi pada tahun 2017, kala itu aku kelas 1 SMA. Aku bersekolah di salah satu SMA ternama di kota terbesar Jawa Tengah. Pengalaman kali ini berawal saat sekolahku mengadakan acara wajib tahunan bertajuk "LIVE IN" di satu desa yang masih di jawa tengah juga.

LIVE IN adalah kegiatan untuk siswa tinggal bersama orangtua asuh selama beberapa hari agar siswa merasakan hidup bermasyarakat di pedesaan yang serba terbatas. Acara ini hanya ada di sekolahku dan dilakukan 1 angkatan saja setiap tahunnya.

Buat temen-temen yang tahu tempat LIVE IN-ku ini tolong jangan ada yang komen tahu tempatnya. Karena aku takut warga di desa tersebut marah atau tidak terima atas ceritaku kali ini.

Hari itu hari Selasa. Kita berangkat dan kumpul di sekolah untuk menaiki Bus yang disewa sekolah. Kalau dibilang pelosok ya kampung ini tidak terlalu pelosok, hanya saja masih banyak kebun-kebunnya.

Sekolahku sudah bekerja sama bertahun-tahun dengan kampung ini. Jadi mereka sudah open gitu sama sekolahku, karena setiap tahunnya mereka dapat jatah anak asuh dadakan. hehe.

Meskipun hanya 1 jam dari tempat aku tinggal, aku belum pernah ke kampung ini. Kampung ini mayoritas warganya bekerja di Luar negeri untuk menjadi TKI. Kalau nggak ya merantau ke kota-kota besar, jadi jarang banget anak-anak yang sudah lulus sekolah menetap di kampung ini.

Kita dibagi menjadi beberapa kelompok. Waktu itu ada 2 kampung yang bekerja sama dengan sekolahku. 1 rumah untuk 2 siswa. Kala itu aku dapat 1 rumah bersama Maya, anak IPA yang nggak begtu dekat denganku.

Walaupun ini tergolong desa tapi rumahnya gede-gede gaiss. Kayak si Mutia dan Lutfi temanku, dia dapat ibu asuh yang rumahnya mewah, kamar ber-ac, bathup di kamar mandi, dan wifinya kenceng pulaa.

Nah nasibku, dapat ibu asuh seorang janda. Kita panggil aja bu Asih, ya. Tinggal di rumah gubuk yang menurutku tidak layak buat tempat tinggal. Bu Asih ini seorang janda beranak 2, tapi anaknya pergi merantau semua.

Bu Asih tinggal seorang diri di rumah ini, dia memiliki warung makan kecil di depan rumahnya. Rumah bu Asih berada di paling depan kampung, pinggir jalan. Kalau siang suasananya ramai, tapi kalau malem sepi bangett.

Aku tidur di tempat tidur kayu berkasur tipis. Lampunya berwarna oranye. Tau kan bohlam kuning itu? Jadi cahayanya remang-remang dan semakin horor kesannya. Kamar mandinya tidak berlampu, terletak di bagian belakang, samping kebun. Sedih banget aku ngerasainnya.

Pertama datang kami d sambut ramah oleh bu Asih. Sudah disediakan makanan dan minuman waktu itu. Setelah makan, kami berkenalan dan berbincang-bincang.

"Dek, kalau bawa uang, uangnya digulung terus dikaretin ya" ucap bu Asih sambil menyodorkan karet gelang.
"Emang knpa ya bu?" Tanyaku polos yang memang nggak ngerti buat apa.
"Biar aman dek, nggak dicuri" ucap bu Asih sambil mengunyah onde onde.
"Emm.. di sini banyak pencurinya bu?" Maya yang tiba-tiba angkat bicara.
"Iya, tapi tidak kasat mata" Jawab bu Asih tenang.

Si Maya tiba-tiba mencengkram tanganku kuat, tanda dia akan mengatakan sesuatu.

"Bu, kami ke kamar ya mau istirahat dulu." Sambil menarik tanganku. Bu Asih mengangguk saja. Sesampai di kamar Maya terlihat gelisah.

"Ndin, kamu ngerti kan yang dimaksud bu Asih?"
"Enggak.." jawabku cuek dengan menatap layar Hp.
"Hissss.. Maksudnya pencuri tidak kasat mata itu tuyul!" Bentak Maya di depan wajahku.
"Heh sembrono? Masak sih may?" Tanyaku masih nggak percaya. Aku baru tahu kalau ada tuyul, ditempatku sama sekali nggak ada berita tentang tuyul.

Selepas maghrib bu Asih memanggil kami untuk makan malam. Di sela-sela makan malam, bu Asih bercerita bahwa di kampung ini hampir seluruh warganya memiliki peliharaan. Peliharaan yang di maksud di sini seperti tuyul, genderuwo, pocong, bahkan ada yang berwujud macan putih. Hanya beberapa orang yang tidak pakai pesugihan itu, termasuk bu Asih.

"Meskipun warga sini rajin sholat, masih banyak yang musrik dek." Ucap bu Asih sambil memainkan sendoknya. Aku dan Maya hanya diam penasaran mendengarkan cerita bu Asih.

"Ada yang sadis, demi kedudukannya rela mengorbankan istrinya untuk tumbal." Tpi kali ini nada bu Asih sedikit pelan hampir tak terdengar. Kami berdua terbelalak, jujur awalnya aku nggak percaya. Masak iya sih ada orang tega gitu.

"Kalau sudah selesai, piringnya tinggal aja. Biar ibu yang beresin." Ucap bu Asih sambil merapikan piring dan gelas bekas makan dia.
"Loh bu.. ceritanya kan belum selesai?" Kali ini aku benar benar penasaran.
"Kalian duduk di depan TV dulu ya, tunggu ibu beresin ini semua."

Kami mengangguk meninggalkan bu Asih yang merapikan bekas makan kita. Kurang ajar banget yaa, uda numpang nggak mau bantuin lagi. wkwkwk. Habisnya bu Asih sendiri yang ingin membereskannya.

"Kepala desa sini namanya pak Prapto. Belom 40 hari istrinya meninggal di depan rumah ibu." Ucap bu Asih yang sedikit waswas.

Jujur aku dan Maya juga takut, tapi penasaran banget. Jadi gini, belum genap 40 hari istri pak Prapto meninggal, dan meninggalnya tepat di depan rumah bu Asih. Ya, di depan gang kampung ini.

Kebetulan bu Asih kala itu sedang ada acara dan menginap di rumah saudaranya selama 3 hari. Menurut beberapa warga, meninggalnya istri pak Prapto tidak wajar.

Siang itu istri pak Prapto berjalan kaki pulang dari pengajian di tetangga gang sebelah. Dia berjalan sendirian, di pinggir jalan. Tapi ketika tewas, dia dalam keadaan terlindas truk.

Di sini memang sering lalu lalang truk untuk mengambil hasil pertanian dan perkebunan. Yang tidak wajar adalah posisi kecelakannya. Dia berjalan, tapi kenapa bisa sampai terlindas truk? Dan posisinya di tengah jalan.

Waktu itu minim saksi jadi nggak ada yang tahu pasti bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Ketika pulang ke rumah, baru bu Asih diceritain bahwa tadi siang istri pak Prapto terlindas truk di depan rumahnya.

Ada warga yang mengatakan bahwa bu Prapto menjadi tumbal suaminya sendiri. Memang seminggu setelah meninggalnya bu Prapto, pak Prapto terpilih menjadi kepala desa. Padahal banyak warga yang tidak menyukai pak Prapto, entah mengapa dia bisa terpilih.

Setelah meninggalnya istri pak Prapto, malam harinya bu Asih tidak bisa tidur. Gak ngerti apa yang membuat bu Asih nggak bisa tidur. Tiba-tiba bu Asih mendengar suara orang mengetok pintu.

"Mbak Asih..."

Bu Asih masih mencerna suara itu, sepertinya ia tidak asing dengan pemilik suara itu. Bu Asih bergegas akan membuka pintu. Ketika pintu terbuka, ia tidak menemukan siapapun di luar. Baru beberapa langkah, pintu terdengar diketuk lagi. Dan ada suara lirih di luar pintu.

"Mbak Asih... tolong aku.."

Bu Asih terkejut mendengar suara lirih perempuan itu, suaranya terdengar seperti suara bu Prapto. Bu Asih yang takut tapi penasaran akhirnya memutuskan untuk melihat dari tirai jendela. Dan benar saja, dia mendapati sosok bu Prapto dalam keadaan muka hancur dan berdarah darah.

Bu Asih yang mendapati hal seperti itu sudah tidak heran karena kecelakaan tidak wajar seperti itu sudah sering terjadi di depan rumahnya. Seperti anak yang sedang berjalan di pinggir jalan tiba tiba meninggal dalam keadaan kaki putus. Iya putus-tus, kata bu Asih. Padahal bu Asih tidak melihat ada truk yang lewat, atau suara benturan kecelakaan.

Pernah juga, kala itu siang hari. Ada warga yang berteriak minta tolong bahwa ada orang meninggal di depan warung. Orang tersebut tidak sakit atau kecelakaan tapi tiba-tiba meninggal. Namun baunya sudah busuk sekali seperti sudah meninggal 3 minggu yang lalu.

Dengan hal-hal semacam itu sudah tidak asing lagi untuk bu Asih. Tiap warga punya peliharaannya masing-masing. Kalau sudah meminta makanan, ya harus di turuti. Mau dimakan atau mencarikan makanan? Malam itu aku dan Maya hbiskan untuk mendengarkan cerita kampung ini dari bu Asih.

"Dek udah malem kalian tidur gih. Kalau bisa usahain harus tidur cepet ya. Terus kalau ada suara apapun tolong jangan keluar kamar." Perintah bu Asih yang membuat aku dan Maya ketakutan.

Aku dan Maya takut dengan apa yang dibilang bu Asih tentang suara-suara. Mataku masih terbuka lebar malam itu. Kulihat Maya sudah memejamkan mata tapi seperti belum pulas benar.

Pukul 1 malam aku masih asyik menatap layar hp. Hingga sesuatu menggangguku. Suara seseorang merintih seperti kesakitan. Awalnya kudengar suara itu pelan sekali, tapi lama-kelamaan sumber suaranya seperti ada di depan kamar.

"Bu Asih? Ada apa?" Ucapku lirih.

Aku beranjak dan akan melihat apa yang terjadi di depan kamar ini. Tiba-tiba Maya menarik tanganku dan berkata lirih,

"Jangaaaannn..!"
Hampir copot jantungku.

"Itu bu Asih nangis.." ucapku ke Maya
"Sssttt.. itu bukan bu Asih deh kayaknya." Ucap Maya dengan jari telunjuk di bibir.

Aku tak menghiraukan ucapan Maya. Sambil berjalan pelan mendekati pintu, kulihat Maya memeluk guling dan mundur ke tembok.

Kreeeekk... pintu kamar terbuka perlahan. Pada malam pertama ini sungguh tidak bisa kulupakan seumur hidupku. Harusnya aku menurut saja ucapan Maya.

Kulihat seseorang sedang berjongkok dengan muka tertutup tangan, aku berjalan mendekatinya dan kupanggil "Bu Asih?"

Orang yang kukira bu Asih itu mengangkat wajahnya. Betapa terkejutnya aku, tampak wajah keriput hitam legam dengan senyum menyeringai, giginya hitam dan matanya merah. Tangannya menjulur seolah akan menarik kakiku, tapi dengan secepat kilat aku langsung berlari memasuki kamar.

Kubanting pintu, wajahku pucat dan ketakutan. Dari luar pintu kamar, wujud tadi menggedor-gedor di pintu.

"Brukk brukk brukk.."
Aku lari k eatas kasur di sebelah Maya, Maya malah nangis doongg..

Aku yang ketakutan banget juga ikut nangis. Tiba-tiba pintu kamar seperti berusaha dibuka, aku dan Maya semakin ketakutan. Pintu kamar pun terbuka, ya Allah hampir copot jantungkuuuuu ternyata bu Asih huaaaa

"Ada apa dek? Kok kalian nangis?" Ucap bu Asih khawatir. Kita berdua tetap menangis.
"Sudah.. sudah.. kalian tenang dulu aja, sudah ibu usir. Itu peliharaan warga sini"
"Kurang ajar, siapa yang berani kirim peliharaan ke sini?" Ucap bu Asih geram.
"Bu... saya mau pulang." Ucap Maya sambil trus menangis.

Kulihat wajah bu Asih seperti bingung. Aku pun kasihan ke bu Asih. Aku tahu yang dia rasain, dia pasti takut kalau disalahkan orangtua kita. Aku juga tahu ini semua bukan kesalahan bu Asih.

"Udh may, di sini cuma 4 hari kok. Sabar dulu ya." Ucapku menenangkan Maya.
"Ini hari pertama lho, ndin Jadi apa kalau kita berlama-lama di sini." Rengek Maya dengan tetap menangis.
"Udah may, kita istirahat yuk. Udah aman kok." Aku masih bersabar menenangkan Maya.
"Udah dek, kalian istirahat ya. Ibu bakal jagain kalian di sini (depan pintu kamar)."
"Bu Asih, tidur aja di kamar. Kasihan juga, besok bu Asih jualan." Ucapku.

Kami pun tidur malam itu. Karena sudah terlalu lelah, aku tidak mendengar apapun. Aku baru terbangun di waktu subuh. Aku membangunkan Maya dan mengajaknya berwudhu. Awalnya dia nggak mau karena takut, tapi kupaksa.

Untuk pemesanan :
  • Minyak Asihan
  • Bulu Perindu
  • Uang Asmak
  • Getah Katilayu
  • Jimat Mancing
  • Jimat Kecerdasan
  • Batu Galih Kelor
dan benda-benda lainnya silahkan kirim WhatsApp ke 085777776418 atau klik di sini.