Tips Belajar Meditasi untuk Pemula (Bag.2)

Tips Meditasi bagi Pemula

Dalam tulisan kali ini kami akan kembali melanjutkan artikel sebelumnya mengenai Tips Belajar Meditasi untuk Pemula. Karena terlalu panjang, sengaja artikel ini kami buat dalam 2 bagian terpisah. Artikel kali ini masih akan membahas mengenai apa saja yang perlu dilakukan dalam memulai proses meditasi. Selamat membaca.

31. Memberi Rambu Untuk Membedakan Antara Tujuan dan Bukan Tujuan


Ketenangan dan keterpusatan merupakan hasil-sampingan, yang juga bertindak sebagai landasan dari meditasi. Mereka bukan tujuan. Padahal untuk bisa mencapai ketenangan dan keterpusatan mental saja, bukan sesuatu yang mudah. Itu sudah memberi berkah yang tidak kecil artinya.

Dalam makan misalnya, kita tak perlu munafik dengan mengatakan bahwa "saya makan bukan atas suatu tujuan, namun hanya demi makan itu sendiri". Kita tak perlu bersikap munafik dengan mengatakan bahwa meditasi kita tak punya tujuan. Bukan saja itu bohong dan omong kosong yang menggelikan, namun itu bisa sangat berbahaya.

Bahaya pertama; ia bisa dengan drastis meningkatkan keangkuhan kita. Bahaya kedua; melakukan sesuatu tanpa tujuan, tidak akan pernah mengarahkan kita pada sasaran. Jangan-jangan malah tersesat nantinya. Bahaya ketiga; dengan tanpa tujuan, kita akan cenderung bertindak sekehendak hati, tanpa suatu sikap-mental dan disiplin tertentu.

Padahal meditasi juga berarti mendisiplinkan, berarti menertibkan mental. Di dalam mental yang tertib, yang berdisiplin lebih mungkin ditemukan kejernihan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian, bukan sebaliknya.

Kita mesti jeli dalam melihat persoalan kita sendiri di sini. Jangan sampai kecerobohan kecil, keangkuhan halus yang laten, malah jadi membesar dan menguat. Anda mesti jeli dalam membedakan mana tujuan yang demi kepentingan pribadi yang berlandaskan ego, dan mana yang tanpa-ego atau kepentingan pribadi.

Namun, hanya mengandalkan pikiran dan kecerdasan saja, memberi peluang bagi si ego untuk meyergap dengan mudah. Kesadaran dan kewaspadaan harus selalu ditegakkan. Itulah meditasi.

32. Aliran Perhatian Secara Alami


Ketika Anda mulai memasuki alam meditasi, batin meditatif, upaya (pemusatan atau konsentrasi) tanggal dengan sendirinya. Fenomena ini tak ubahnya seperti ketika Anda membuka keran air di rumah Anda.

Ketika baru membukanya, terjadi upaya pengerahan atau pemusatan tenaga ke tangan. Namun setelah Anda berhasil membukanya, air akan mengalir dengan sendirinya, tanpa perlu pengerahan tenaga lagi. Anda cukup hanya menampung kucurannya saja bukan?

Nah…inilah mengapa meditasi ada yang menyebut sebagai "bukan upaya, bukan pula metode". Di alam meditatif; sebutlah demikian; memang segala sesuatu mengalir dengan sendirinya. Semuanya mengungkapkan dirinya sendiri, kemanapun si perhatian Anda arahkan.

Di sinilah berbagai ide, gagasan, ilham, pawisik, wahyu; atau apapun sebutan yang Anda berikan untuk itu; bermunculan dengan sendirinya, mengalir secara alamiah. Anda samasekali tak perlu memeras otak untuk itu. Di sini, intervensi kerja otak justru malah menganggu. Di alam meditatif otak tidak bekerja, ia non-aktif, sebaliknya yang hadir hanya kesadaran dan perhatian terarah yang menyertainya.

33. Mengamati Fenomena Batin


Mengamati kegiatan batin memang mengasyikkan, di samping unik. Mengamati fenomena batiniah orang-orang sekitar kita bisa saja, akan tetapi kurang bermanfaat langsung; bila hanya sebagai bahan perbandingan atau memperbanyak data untuk kemudian dirangkum guna dapat menarik kesimpulan yang lebih bersifat umum untuk digunakan dalam latihan, boleh jadi aktivitas itu bisa jadi bermanfaat.

Ada tips dari yang berpengalaman dalam mengamati batinnya sendiri. Beliau menyarankan untuk membuat sejenis buku harian yang di-breakdown (rinci) dalam jam demi jam bahkan puluhan menit. Dalam sehari bisa dibagi dalam dua fase, yakni fase aktif dan fase istirahat (tidur).

Tentu kita tidak mungkin membuat catatan selama tidur, dan memang tidak diharapkan demikian, akan tetapi membuat catatan tentang aktivitas bawah sadar yang berupa impian segera setelah bangun tidur agak tidak keburu lupa.

Dengan demikian dalam 24 jam sehari kita mempunyai catatan yang cukup rinci tentang aktivitas batin kita. Misal pk. 07.00: merasa badan segar tak ada beban; pk. 07.10: jengkel karena kaos kaki digigit hewan kesayangan, padahal sedang buru-buru berangkat kerja dan sarapannya pun itu-itu saja; pk. 07.20 – 07.30: kemacetan lalu lintas menjengkelkan dan hampir saja nyenggol sebuah BMW, dan seterusnya.

Jadi ia berupa sejenis diary dengan penekanan pada fenomena batin yang dirasakan. Dari catatan itu, yang dibaca menjelang tidur, coba dijumlah berapa kali atau berapa lama dalam sehari kita jengkel, marah, bingung, mumet, gembira, tak sabaran, riang, sakit hati, tersinggung, puas, berprasangka, kecewa, sedih dan lain sebagainya.

Tergantung kebutuhan dan tingkat ketelitian yang diharapkan, pencatatan bisa dalam kurun waktu beberapa hari, hingga kita merasa cukup untuk menyimpulkan bahwa rata-rata dalam sehari saya jengkel sekian jam, tersinggung sekian menit dan seterusnya.

Tentu mencatatnya secara periodis agar tidak menganggu kegiatan normal kita. Mencatat saat istirahat makan siang misalnya, atau saat tidak melayani klien misalnya. Intinya kita punya catatan yang cukup rinci tentang aktivitas perasaan dan pikiran, ataupun persepsi kita.

Tampaknya memang agak lucu dan rikuh bila sampai diketahui orang lain, bahwa kita sedang mencatat sesuatu yang tidak umum dilakukan orang; akan tetapi, itu tetap bisa kita atur jadwalnya sendiri agar terasa aman namun lengkap. Seperti juga diary, catatan tak perlu panjang-panjang, toh kita mengerti.

Jangan berpikir bahwa Anda membuat catatan untuk disetorkan pada oang lain. Ini semata-mata demi kebaikan Anda sendiri. Ia akan amat membantu Anda nantinya. Ia membantu Anda dalam memahami bekerjanya batin dalam berbagai suasana spesifiknya.

Tak perlu beranggapan bahwa kegiatan ini menyita waktu hingga mengurangi produktivitas kerja Anda; toh kita tak perlu setiap saat mencatat. Kita pasti punya waktu senggang untuk beristirahat sejenak di sela-sela kesibukan kita; kita kan bukan robot.

34. Ia Tak Terpikirkan dan Tak Terkatakan


Anda tak akan pernah bisa mengatakan tentang sesuatu yang tak terpikirkan, kecuali Anda ngelindur, mabuk, kesurupan atau sejenisnya. Secara sadar, itu tidak dimungkinkan. Namun hebatnya, Anda dapat mengalami dan merasakannya.

Anda dapat merasakan sesuatu yang tak bisa Anda katakan, pun tak terpikirkan. Anda bisa merasakan beda antara manisnya gula dibanding madu. Anda bisa merasakan beda antara harumnya melati dibanding cempaka. Anda dapat merasakan beda antara merdunya suara Pavaroti dan Rein Jamain.

Namun tetap Anda tak dapat memaparkan seperti apa itu adanya. Kenapa? Karena ia tak terpikirkan; karena di sana bukan pikiran kita yang bekerja. Demikian juga ketika sang batin memasuki alam meditatif-nya Tak ada kata-kata di sana, tak ada bentuk-bentuk pemikiran di sana; kecerdasanpun tak diperlukan disana.

Anda hanya mengetahui, merasakan; tepatnya menyaksikan. Nah…setelah turun dari alam meditasi inilah pikiran mulai bekerja lagi. Dan ketika Anda mengingat kembali apa yang dirasakan dan dialami di sana, Anda akan mengingatnya dengan sangat jernih.

Setelah itulah Anda baru merumuskannya menggunakan kecerdasan dan pikiran Anda untuk kemudian Anda ungkapkan dengan kata-kata, sesuai gaya bahasa dan kebiasaan berbahasa Anda. Jadi bukan di sana. Ungkapan verbal hanya dibutuhkan disini, bukan di sana.

35. Berlatih Menjadi Saksi Yang Baik


Dari perspektif ini, kita sesungguhnya juga bisa mengatakan bahwa meditasi adalah latihan untuk memfungsikan-diri hanya sebagai saksi. Umumnya, kita tidak becus untuk memfungsikan diri hanya sebagai saksi. Kita cenderung ditarik untuk terlibat, apakah secara pasif maupun aktif, apakah secara parsial maupun total.

Kenapa? Karena pikiran, perasaan, penalaran, ingatan-ingatan seringkali menginterupsi proses pengamatan kita. Mereka mengotori kejernihan visi kita, Mereka menghadirkan penilaian-penilaian, prasangka-prasangka, praduga-praduga. Semua ini hanya mengeruhkan batin kita. Kita tak dapat melihat dengan jernih, lengkap dan lebih menyeluruh karenanya.

Ketika Anda harus menyahuti pertanyaan atau teguran dari seseorang sementara Anda sedang menyaksikan sebuah film di televisi, misalnya; apa yang terjadi? Anda melewatkan beberapa kejadian di dalamnya, selama itu; sejak teguran atau pertanyaan itu Anda perhatikan sampai selesai meresponnya dan kembali lagi mengarahkan perhatian pada apa yang ditonton. Alhasil, Anda menyaksikan film itu secara kurang lengkap.

Ada banyak kejadian; yang boleh jadi justru merupakan satu dialog atau adegan yang terpenting dalam film itu; lepas dari perhatian dan amatan Anda. Anda tak menyaksikan seutuhnya. Nah, sekali lagi, meditasi sesungguhnya juga melatih kita untuk bisa memfungsikan diri kita sebagai saksi yang baik; saksi yang tanpa praduga, tanpa prasangka, tanpa penilaian, tanpa pembandingan apalagi penghakiman, tanpa pewarnaan, tanpa pretensi, tanpa keberpihakan.

36. Mengembalikan Kepolosan


Saksi seperti yang disebutkan tadi adalah saksi yang polos, yang lugu. Ia layaknya anak-anak balita; bahkan mungkin selugu dan sepolos bayi. Di sini juga ada kepasrahan total, kepasrahan yang sebenar-benarnya, Isvarapranidhana, yang tidak dibuat-buat karena kehabisan akal atau rasa ketidak-berdayaan dan keputus-asaan.

Di sini ada penerimaan yang benar-benar lapang (legawa) terhadap apa yang terjadi, apa yang dialami, apa yang disaksikan, apa yang ada. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kepolosan dan keluguan seperti ini jarang singgah di batin kita bukan? Batin kita penuh pretensi; kita melakukan sesuatu yang lainnya. Dalam batin seperti ini, tak pernah ada ketulusan, tak pernah ada kepolosan.

Karena pretensi tak akan pernah akur dengan kepolosan. Di mana hadir pretense, kepolosan malah akan menyembunyikan dirinya. Oleh karenanya, meditasi di sini memainkan peran aktifnya dalam mengembalikan lagi kepolosan itu kepada kita. Kepolosan yang mungkin telah terlalu lama kita tinggalkan, kita abaikan begitu saja, di sebuah sudut sunyi hati yang terdalam.

37. Hidup Murni Tanpa Waktu


Jiddu Krishnamurti pernah mengatakan: "Bermeditasi adalah hidup murni tanpa waktu." Apa kira-kira maksudnya? Untuk mengertinya, kita harus mengerti apa yang dimaksudkannya dengan 'hidup murni'.

Apa itu hidup murni? Itulah hidup sebagai saksi, hidup yang benar-benar polos, seperti yang kita bicarakan sebelumnya. Itulah hidup murni. Ia memang tanpa waktu. Kenapa? Memang benar, di alam fenomenal ini, apapun yang terjadi, apapun yang kita lakukan butuh waktu. Ini tak terpungkiri. Apa yang kita sebut sebagai waktu di sini adalah waktu fisikal, waktu mekanikal, dan bukan waktu psikologikal.

Apa yang disebutkan sebagai waktu oleh Krishnamurti adalah waktu psikologikal ini. Ketika Anda sedang menunggu dalam suatu antrean, atau menunggu kedatangan seorang yang sangat Anda rindukan, waktu akan terasa merangkak sangat lamban.

Sebaliknya, bilamana di suatu pagi yang cerah Anda asyik mengerjakan suatu aktivitas terkait dengan hobi Anda misalnya, waktu terasa berjalan sangat cepat. Tiba-tiba saja sudah sore. Padahal sejam….ya sejam. Nah…waktu yang bekerja pada saat Anda menunggu maupun terbenam dalam keasyikan inilah yang dimaksudkan.

Sebagai waktu psikologikal. Dan dia bisa sangat relatif, tergantung suasana hati maupun kondisi batin Anda pada kurun waktu tertentu. Dalam menunggu, ada harapan untuk cepat bertemu. Batin Anda tidak tentram, tidak murni. Harapan untuk cepat bertemu, menganggu ketentraman sehingga mengotori kemurniannya.

Dalam kemurnian, di mana tak ada harapan-harapan, tak ada keinginan-keinginan, waktu menjadi kehilangan kekuatannya di sini. Anda tak perlu merasa dibatasi olehnya. Anda hanya mengalir bersamanya, dalam kekinian Anda. Tak ada cepat atau lambat, atau deskripsi kwalitatif dualistis lainnya, yang dapat dikenakan terhadap batin yang murni. Ia hanya seperti apa adanya.

38. Apa Meditasi Bisa Mengenyangkan Perut Yang Lapar?


Ada yang mengatakan bahwa hidup adalah rangkaian dari berbagai masalah, dengan berbagai tipe, yang tak pernah habis-habisnya. Sungguh sangat disayangkan bilamana hidup ini hanyalah disibukkan oleh masalah-masalah remeh saja, dengan tanpa memberi kita peluang untuk berkreasi, berapresiasi, mencipta atau menikmati.

Pertanyaannya adalah, apakah meditasi bisa berbuat sesuatu tehadapnya? Kritik yang paling tajam yang ditujukan kepada para meditator, terkait dengan persoalan-persoalan hidup seperti itu, adalah: "Apakah meditasi menjadikan perut saya yang lapar ini kenyang?", atau "Apakah kemiskinan bisa dientaskan hanya dengan meditasi?".

Kritik bernada skeptis dan dungu seperti ini sebetulnya hanya mungkin dilontarkan oleh mereka yang samasekali tak memahami apa itu meditasi. Atau telah memahami meditasi secara keliru, namun tak pernah mencari tahu apa meditasi itu sesungguhnya karena tidak pernah benar-benar mempraktekkannya.

Mereka akan terbelalak, melongo untuk kemudian meninggalkan saya, bilamana saya menjawab semua pertanyaan serupa dengan: "Bisa, bahkan dengan amat sangat mudah!"

Dalam kemurnian, kejernihan batin, apapun yang Anda lihat, apapun yang Anda saksikan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Segala persoalan-persoalan akan memperlihatkan keterkaitannya, betapapun kompleksnya sehingga Anda dapat menetapkan solusi-solusi serta penyikapan-penyikapan yang terbaik, yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Kegagalan kita dalam memecahkan permasalahan umumnya tertumpu pada ketidak-mampuan kita dalam melihat persoalannya secara menyeluruh dan secara lengkap. Dalam ketidak-lengkapan dan tanpa memahami situasi dan kondisi konkrit yang ada, apapun yang kita lakukan hanya akan mempercepat tercapainya kegagalan. Bahkan kita malah bisa memunculkan beberapa persoalan baru lainnya.

Nah, di sinilah signifikansi dari meditasi dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari yang sarat dengan berbagai persoalan ini. Hanya batin yang benar-benar keruh, yang benar-benar gelaplah yang tidak dapat melihat manfaat meditasi dalam kehidupan sehari-hari.

39. Aliran Perhatian Penuh Yang Menerus


Batin meditatif tidak mungkin melihat secara parsial. Ia seksama dan menyeluruh. Ia juga cermat dan penuh kewaspadaan, sehingga menjadi peka dan tajam. Aliran menerus dari perhatian yang terpusat pada suatu objek tidak memungkinkan diperolehnya amatan parsial.

Di mana ada keterpusatan, ada aliran perhatian yang menerus, ada kewaspadaan, keseksamaan, ketelitian, maka di sana ada meditasi. Keseluruhan dalam meditasi inilah yang memberi Anda pengetahuan bahkan pemahaman yang lengkap dan terpercaya akan segala sesuatu.

Jadi ia bukan sembarangan perenungan; dan jelas bukan auto-sugesti yang hanya merupakan bentuk lain dari penipuan diri. Dalam kepolosan, dalam apa adanya, tak ada kebohongan, pemunafikan apalagi penipuan.

40. Ketercerapan Yang Dalam


Seorang pengamat seni, pencinta benda-benda seni mempunyai kepekaan yang sangat tajam akan benda seni yang diamatinya. Di sini ia tidak saja mengamati, namun juga menikmati. Demikian juga dalam meditasi, Anda menikmati apa yang Anda meditasikan, Anda ada didalamnya, di semua sisi-sisinya, di atasnya, di bawahnya.

Anda adalah apa yang Anda meditasikan itu. Dalam hal ini, yang bekerja bukanlah pencerapan indriyawi lagi. Pencerapan menyeluruh tiada dimungkinkan lewat indriya, kendati ia dibantu oleh pikiran dan kecerdasan.

Dalam ketercerapan ini Anda sebagai si pencerap sepenuhnya lebur dan menyatu dengan apa yang dicerap. Oleh karenanya-lah pengamatan jati diri hanya dimungkinkan lewat meditasi. Bahkan dalam Samadhi (matangnya meditasi), Anda tidak sekedar mengenali-Nya, namun sepenuhnya menjadi Dia.

41. Bukan Pembangkitan Daya Psikis


Telah disampaikan sebelumnya, konsentrasi (dharana) merupakan landasannya. Hingga dharana, sebetulnya batin telah cukup tentram. Gejolak pikiran dan gelora perasaan tak ada lagi di sini. Inilah yang sering menyebabkan banyak orang keliru.

Batin yang terpusat hanya pada satu titik konsentrasi memang tajam dan berkekuatan. Ketajaman dan kekuatannya inilah yang bisa mengundang daya-daya psikis, seperti gejala supranatural, paranormal maupun bentuk-bentuk daya metafisikal lainnya. Ketika seseorang mendambakan yang serupa itu, ia bisa jadi juga melakoni laku spiritual, layaknya seorang meditator atau yogi.

Dari luar dan hingga fase pra-meditasi, semuanya masih tampak serupa. Namun, ,mereka hanya akan terhenti sampai di situ saja. Kendati gejala seperti itu bukanlah apa yang dimaksudkan oleh seorang meditator atau seorang yogi, namun mereka juga memiliki daya-daya psikis seperti itu.

42. Sejernih dan Sebening Kristal


Ketika kacamata yang kita kenakan kotor, berdebu dan bernoda, semuanya tampil buram di mata kita kita. Namun, bagaimana itu bisa disadari tanpa memeriksanya, menanggalkannya sejenak untuk dicermati?

Demikian pula halnya dengan kacamata batin ini; ia kita tanggalkan, teliti sekaligus jernihkan lewat meditasi. Batin meditatif adalah batin yang sepenuhnya sadar; sadar akan kekiniannya, sadar akan keberadaannya, sadar akan jati dirinya. Ia sejernih dan sebening kristal.

43. Taman Bunga Kebajikan Tanpa Pamrih


Batin meditatif ibarat taman subur, di mana bunga-bunga harum inspirasi kebajikan yang beraneka warna tumbuh dan berkembang dengan maraknya. Dan seperti juga bunga-bunga itu, ia tak memilih apalagi menolak kumbang, lebah atau kupu-kupu manapun untuk mengisap sarinya; ia tak memilih hidung dan mata manapun untuk menghirup aroma maupun menikmati kecantikannya. Dia sangat adil; Ia hanya akan memberi dan memberi. Dialah sumber kebajikan luhur yang tanpa pamrih itu. Dia manifestasi kasih nan murni itu.

44. Langit Biru Membentang


Ketika langit biru membentang di hadapan Anda, di samping, di belakang, di atas juga di bawah Anda, apa yang Anda rasakan? Kelapangan dan keleluasaan yang tiada terlukiskan. Keheningan, kesendirian dan kesunyian tanpa noda kesepian.

Di sana Anda benar-benar bebas menghirup, menikmati sepuas-puasnya yang ada, leluasa berkreasi, berimajinasi dan menikmati madu lila bak Sang Penguasa Kosmis. Pengalaman seperti ini tak akan terlupakan. Dan itu tak pernah akan kita nikmati tanpa meditasi.

45. Bisa Sulit, Bisa Mudah


Sesuatu boleh jadi sulit, namun bisa juga sederhana. Itu sepenuhnya tergantung kita sendiri. Salah seorang guru besar Teknik Sipil di University of New South Wales, Australia, suatu ketika pernah mengatakan kepada saya, "Kita dilengkapi akal-budi bukanlah untuk memperumit sesuatu, namun sebaliknya. Bila orang pintar meyederhanakan yang rumit, sebaliknya yang bodoh mempersulit yang sebetulnya sederhana".

Kendati itu sudah saya dengar belasan tahun lalu, hingga kini masih saya ingat. Ia sungguh mengesankan. Demikian pula dengan meditasi. Anda bisa menjadikannya tampak sedemikian seram dan njelimet-nya, ataupun menjadikannya mudah dan sedemikian sederhana.

Memang ada orang yang cenderung tertarik pada yang 'wah', yang seram-seram, yang pelik. "Lebih menggairahkan" katanya. Boleh-Boleh saja sih, asalkan bukan untuk menakut-nakuti atau untuk tujuan lain. Akan tetapi ingatlah, meditasi nyaris tak mungkin didekati tanpa kepolosan, tanpa kejujuran dan ketulusan.

Ketika itu tidak hadir, ia akan mengarahkan kita menjauh atau menyimpang dari tujuan semula. Kecuali bila sejak semula Anda memang punya tujuan lain, Anda tentu tidak akan menyimpang dari tujuan semula bukan?

46. Bak Menyuling Air Keruh


Air yang keruh umumnya kita endapkan dulu. Mungkin hanya dengan mengendapkannya saja ia sudah cukup jernih dan siap dimanfaatkan. Namun bila masih sangsi untuk meminumnya langsung, kita perlu mendidihkannya sebelum diminum. Demikian juga dengan meditasi, batin yang keruh diendapkan, dijernihkan dan disterilkan hingga batas-batas yang diperlukan, sehingga cukup aman bagi kesehatan mental kita.

Bila kita menginginkan air-murni kita bisa saja lebih jauh menyulingnya, menguapkannya habis untuk kemudian mendinginkan uapnya lagi agar menyublim, menghasilkan tetes-tetes air-murni. Melalui prinsip kerja yang sama, meditasi bisa mengantarkan kita pada Kemurnian-Batin, pada kesadaran Murni, yang menghuni setiap insan.

47. Perjalanan Kembali ke Jati Diri


Kesadaran ragawi merupakan pijakan awal yang akan dilampaui setahap demi setahap menuju kesadaran spiritual. Inilah pengembangan batin itu. Dalam perjalanan ini, kesadaran mental susul-menyusul bersama kesadaran moral, setelah kesadaran ragawi.

Saat inilah kesadaran ragawi; yang bertumpu kuat pada keterbatasan indriyawi; tampak mengambang di permukaan, bersinar dalam cahaya semu yang redup. Ia tak lagi sepenuhnya punya kekuatan untuk mendikte, seperti sebelumnya.

Berada di jenjang "antara" ini, baik waktu, ruang pun kausasi (desa-kala-patra) semakin tampak jelas, seperti apa ia adanya. Sosok jiwa bisa tampak sedemikian bermoral, humanistis dan penuh pengertian di sini, sesuai dengan kedalaman yang berhasil digapainya kembali. Ia bisa tampak bajik dan bahkan bijak.

Ini bisa berlangsung lama, bahkan seumur kelahirannya yang sekarang ini. Manakala itu terlampaui dengan selamat sebelum melepaskan jasad ini, iapun menyentuh gerbang kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Di sini segala fenomena fisikal, mental dan moral tampak begitu jelas; di mana masing-masing bersinar silih berganti dengan kerdipan dan intensitas cahayanya sendiri-sendiri. Sungguh indah. Sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Di sini, perasaan, pikiran, dan intelek serta ke-aku-an; yang tiada lain adalah fenomena-fenomena mental; tidak lagi sedemikian mendiktenya; mereka hanya tampak sebagai eksponen-eksponen di dalam panorama batiniah yang menakjubkan untuk diamati, dan dinikmati kembali. Kini mereka telah digantikan oleh intuisi yang kian mantap, lurus dalam melangkah memasuki cemerlangnya Kesadaran Spritual.

Ia boleh jadi sedemikian menyilaukannya, sampai-sampai terasa membutakan penglihatan, sehingga sangat mengagetkan. Boleh jadi juga banyak orang dibuatnya terpana dan terkagum-kagum, sampai-sampai sudah merasa cukup puas hanya dengan memandangi kecemerlangannya itu, dan terpana di luar gerbang.

Suasana dan panorama yang sedemikian asingnya bagi kita, juga seringkali menakutkan. Keasingan dan kesendirian seringkali menakutkan. Dan ini bisa berarti pengurungan niat atau penarikan langkah. Nah, disinilah keberanian besar sekali perannya. Dialah yang akan menopang langkah kita dalam memasuki Kesadaran Ilahi.

48. Mengamati Dengan Seksama dan Penuh Perhatian


Manakala kita mengamati sesuatu; apakah sesuatu itu ada di luar maupun di dalam; dengan seksama dan penuh perhatian, maka diapun akan menjelaskan dirinya sendiri kepada kita. Dia seakan-akan memfungsikan dirinya sebagai guru bagi kita; ia bisa mengajari kita dengan amat jelas, lengkap namun sederhana, tentang apa dia adanya.

Umumnya, setelah kita beranjak di mana berbagai persoalan hidup yang makin menumpuk silih-berganti menuntut untuk diperhatikan juga, "mengamati dengan seksama dan dengan penuh perhatian" secara alamiah dan sedikit demi sedikit semakin menjauh dari kita, untuk akhirnya tidak lagi akrab dengan kita. Apa yang tadinya merupakan sesuatu yang akrab dan alamiah, kini malah menjadi sesuatu yang nyaris tak pernah dikenal, sesuatu yang sama sekali asing lagi.

Oleh karenanya, meditasi sebetulnya bukanlah sesuatu yang sama sekali asing bagi kita. Kitalah yang mengasingkannya dari hidup kita, dengan tanpa sepenuhnya disadari. Alhasil, bukanlah sesuatu yang begitu aneh bila kita malah telah menjadikan Diri kita sebagai orang yang asing bagi diri kita sendiri. Dan untuk mengenal-Nya kembali kini terasa sulit. Kita telah terlanjur membangun tembok demi tembok, sekat penghalang demi sekat penghalang, tabir demi tabir antara kita dan Sang Diri-Jati.

49. Bangkit Dalam Kesadaran


Ketika semua itu telah benar-benar disadari sepenuhnya, Anda akan dibuatnya merasa bodoh, benar-benar bodoh, karena selama ini telah membodoh-bodohi diri sendiri. Rasa malu mendalam atas kebodohan diri ini bisa membuat Anda menangis. Namun kali ini tangis itu bukan lagi tangis cengeng, tangisan akibat luapan emosi rendah, ia kini adalah tangis kesadaran.

Disini tak perlu muncul penyesalan, sejauh kebiasaan suka menyesali diri berkepanjangan juga menjadi satu fenomena mental yang juga kita tangisi. Tangisan inilah yang akan menyentak Anda. Ia membuat Anda bangkit untuk berjuang, bangkit untuk berperang, bangkit untuk menyongsong masa depan dengan gagah-berani.

Kini Anda merasa seakan-akan memperoleh semangat baru, daya juang baru dan energi baru dari dalam. Batin telah me-recharging dirinya sendiri, bersamaan dengan terbitnya "Mentari Kesadaran". Anda boleh jadi tampak sama bersemangatnya, sama bergairahnya seperti dulu, namun kini ada satu perbedaan mendasar dibanding sebelumnya. Kini Anda ditemani oleh kesadaran, bukan lagi kebodohan.

50. Menuju Universalitas


Tanpa mengenal batin Anda sendiri, Anda tak mungkin bisa memanfaatkannya secara optimal. Anda memang harus mengenalnya dulu sebelum Anda benar-benar mengembangkannya untuk bisa memanfaatkan kekuatannya. Batin yang telah dikembangkan adalah batin yang meluas, yang telah menyingkirkan sekat-sekat yang membatasinya.

Batin yang telah mengembang adalah batin yang lapang, yang leluasa, yang bebas, yang tak lagi terbatasi pun berkehendak membatasi. Dan hanya apabila batin Anda telah sedemikian berkembangnyalah baru Anda berkompeten untuk berbicara masalah universalitas. Sebelum itu, bahkan makna yang sesungguhnya dari kata 'universal' itu sendiri belum sepenuhnya mampu dipahami.

51. Pengembangan Intuisi


Intuisi dikembangkan lewat meditasi. Bahkan mereka yang terpelajarpun seringkali mengelirukannya dengan naluri. Kendati mereka sama-sama fenomena batin, yang juga sama-sama kita bawa bersama dengan kelahiran berjasad manusia ini, namun naluri merupakan "sisa" dari aspek kebinatangan kita.

Seperti juga hawa-nafsu, naluri mencirikan kebinatangan kita. Sebaliknya, intuisi yang dikembangkan lewat meditasi merupakan aspek kedewataan kita. Anda tidak bisa mengharapkan munculnya kedewataan, sementara enggan melepas, apalagi malah semakin mesra dengannya.

52. Mempertemukan Anda Dengan-Nya


Anda boleh saja mengatakan: "Saya bermeditasi untuk mencapai Tuhan, untuk menyatu dengan Tuhan". Itu bagus, sebuah ideasi yang perfect. Akan tetapi, sadarkan Anda bahwa Anda tak bisa mencapai sesuatu yang tak Anda ketahui, yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan Itu.

Kata 'mencapai' seringkali dikonotasikan terhadap sesuatu yang di luar sana, bahkan boleh jadi yang amat sangat jauh di atas sana. Ini satu masalah besar lainnya bagi para 'pencari' atau 'pendamba' Tuhan. Kemana Anda akan mencari-Nya?

Mungkinkah Anda mencari, apalagi menemukan, sesuatu yang tak Anda ketahui sama sekali? Jangan gegabah, saudaraku. Jangan terlalu muluk-muluk dulu; ketahuilah, kenalilah, pahamilah diri Anda sendiri dulu dengan sebaik-baiknya. Setelah itulah kita akan dipertemukan dengan-Nya.

53. Kemusnahan Eksternalitas


Ketika Anda merasakan diri Anda benar-benar lebur menyatu dengan alam, bukan hanya sebagai bagian dari alam namun alam ini sendiri; Anda ada tercerap dalam batin meditatif. Di sini kata-kata kehilangan maknanya, oleh karenanyalah ia tak Anda perlukan lagi.

Di sini Andalah ruang itu, waktu itu, kondisi juga kausalitas itu. Anda tak lagi melihat semua itu sebagai yang di luar sana. Bahkan kata ‘di luar’ pun menjadi kehilangan maknanya bagi Anda. Di sini tak ada lagi eksternal maupun internal.

Bila semuanya internal, apakah ada yang disebut eksternal? Pada saat yang bersamaan, apakah kata 'aku', 'kamu', dan 'dia' masih punya makna, sejauh mereka hanya rekaan dari batin yang terkondisi?

54. Lebur Dalam Kesatuan


Seperti juga 'aku' dan 'kamu' melebur menjadi 'kita', 'aku' dan 'mereka' melebur menjadi 'kami', demikianlah sang diri kecil nan semu lebur menyatu Sang Diri Agung yang melingkupi segalanya, dalam Samadhi.

Rangkaian proses menuju peleburan ini merupakan suatu aliran berkelanjutan, sejak terjadinya keterpusatan mental (dharana), aliran perhatian yang terus menerus dalam kesadaran (dhyana) dan panunggalan itu sendiri (Samadhi).

Manakala itu tercapai, maka tercapai pulalah tujuan meditasi Anda. Di sini 'mencapai' bertransformasi menjadi 'menjadi'. Itu bisa Anda awali dengan, apa yang disebut dengan, fase penyederhanaan.

Secara eksternal, ia bisa tampak sebagai hidup sederhana. Akan tetapi, secara internal; dan justru inilah yang terpenting; ia merupakan penyederhanaan dari segala bentuk keinginan. Keinginan-keinginan itulah yang melahirkan beraneka bentuk pemikiran serta gelora perasaan.

Pikiran tiada lain dari wadah beraneka bentuk mental serupa itu; ia diperlukan karena ada yang mesti diwadahi, ada yang perlu ditampung. Bersamaan dengan musnahnya keinginan, musnah pulalah si pikiran. Dan fenomena kemusnahan inilah yang disebut manonasa.

Fase penyederhanaan ini diawali dengan berlatih menarik atau membalik arah perhatian ke dalam, di mana ini juga secara otomatis berarti peniadaan kontak-kontak indriyawi dan dicapainya kedamaian batin (shanti). Nah, dari sinilah sebetulnya meditasi kita ini melangkah dengan penuh kesadaran, sebagai landasannya.

55. Beberapa Ciri Kemajuan


Hasrat untuk mengetahui "apakah kita telah cukup maju dalam latihan kita selama ini", memang merupakan suatu hasrat yang wajar di kalangan penekun. Agaknya telah dipahami, kemajuan dalam laku spiritual tidak selamanya hanya diukur dari pengalaman-pengalaman supranatural seperti pendengaran tembus (divyasrota), penglihatan tembus (divyachaksu), membaca pikiran orang atau makhluk lain, maupun dari penguasaan siddhi-siddhi.

Kemajuan berupa perbaikan prilaku atau komposisi karakter dasar penekun dibanding sebelumnya, seharusnya juga diposisikan sebagai indikator penting dari kemajuannya. Aspek kemajuan ini, bukan saja terkait dengan si penekun sendiri, namun ia juga berdampak baik bagi orang-orang di sekitarnya, terutama yang berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan si penekun.

Apa saja itu? Mereka antara lain: kondisi batin yang seimbang, kejujuran, sikap terbuka, rasa belas kasihan, kepedulian dan tidak mementingkan diri sendiri, bebas dari atau semakin menipisnya pretensi, keangkuhan, prasangka dan pola-pikir dogmatis, menurut Sri Swami Shivapremananda, merupakan beberapa sifat baik yang dicapai oleh mereka yang mengalami kemajuan dalam meditasi.

56. Memahami Karakter Si Pikiran


Kendati batin bukanlah semata-mata pikiran, namun dalam banyak aspek kerja batiniah, pikiran ternyata sangat dominan. Oleh karenanyalah, pengendalian-pikiran menjadi sadhana penting dalam meditasi.

Untuk bisa benar-benar mengendalikannya, sebetulnya kita diharus "menjinakkan"-nya terlebih dahulu. Sedangkan untuk dapat menjinakkannya, kita perlu mengetahui karakter-karakter dasarnya. Beberapa karakter dasarnya, erat kaitannya dengan bentuk, jenis, serta intensitas dari keinginan-keinginan kasar maupun halus yang biasa dipertontonkannya.

Nah, semua inilah yang perlu kita amati ke dalam. Lewat pemusatan perhatian ke dalam, kewaspadaan serta kecermatan, mereka teramati dengan baik. Dengan mengamatinya secara seksama, akan kita ketahui sendiri bahwa pikiran merupakan aspek aktif dari batin kita. Ia mudah berubah, meloncat-loncat seperti kera serta tak jarang berontak untuk menjadi liar.

Sangat sulit untuk didiamkan dengan paksa, ia malah berontak; maunya hanya berbuat sekehendak hatinya saja. Nah, makhluk seperti inilah yang harus dikendalikan dalam meditasi. Adakah yang seperti ini bisa Anda serahkan kepada orang lain untuk dikerjakan bagi Anda?

Tulisan ini dipetik dan dialih-bahasakan dari "Parables of Sivananda". Semoga tulisan kami mengenai Tips Belajar Meditasi untuk Pemula ini bermanfaat bagi anda. Salam Rahayu.