Cara Merawat Benda Pusaka

Cara Merawat Benda Pusaka
Cara Merawat Benda Pusaka

Menjamas adalah proses merawat dan menjaga pusaka hingga tetap bebas dari karat hingga terjaga dari kerusakan. Cara merawat benda pusaka ini mulai dari proses membersihkan dari karat (mutih), mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka. Keseluruhan proses ini disebut proses Jamasan Pusaka.

Dalam merawat benda pusaka, bagian terpenting dari seluruh proses ini adalah sikap batin kita yang harus "nderek langkung" alias permisi, menghormati, dan tidak meremehkan. Hal tersebut merupakan penghormatan kita atas kerja sang Empu pembuat pusaka dan atas berkah Tuhan atas benda pusaka tersebut.

Sekalipun anda sulit atau tidak bisa memahami 'nilai' dari sebuah benda pusaka, benda-benda tosan aji seperti keris, tombak, kudi, kujang, pedang, wedhung, dan lain sebagainya itu tetaplah sebuah karya seni. Dengan menghormati benda pusaka sebagai benda seni, itu artinya kita telah menghargai hasil jerih payah sang pembuatnya.

Dalam tulisan ini kami memang lebih menitik-beratkan pada perawatan keris. Namun seperti tosan aji lainnya, teknik atau cara perawatan  ini juga bisa anda lakukan pada benda pusaka lainnya yang anda miliki di rumah.

Tidak seperti prosesi jamasan pusaka Keraton Yogyakarta yang membutuhkan ubo rampe tidak sedikit dan sampai harus di-kirab, untuk jamasan pusaka sendiri caranya relatif sederhana. Meski demikian, jika anda kurang berpengalaman atau kurang yakin sebaiknya menggunakan jasa mewarangi atau jasa menjamas pusaka dari pihak ketiga yang lebih kompeten.

MENCUCI PUSAKA / MUTIH


Syarat mutlak agar bilah keris bisa diwarangi dengan baik adalah bilah harus dicuci (di-putih) dengan baik terlebih dulu. Proses mutih akan membersihkan pusaka dari berbagai noda, kotoran, atau karatnya - termasuk warangan yang menempel sebelumnya.

Ada banyak cara untuk melakukan mutih keris, atau yang kadang disebut juga ngumbah keris. Kebanyakan memakai cara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan alami.

Salah satu cara memandikan keris secara tradisional adalah sebagai berikut:
  1. Rendam bilah keris dengan air kelapa tua selama beberapa hari, tergantung kadar kotoran dan karatnya.
  2. Gosok bilah dengan jeruk nipis sehingga besinya menjadi putih keperakan.
  3. Buah lerak dibuang isinya dan diberi sedikit air dalam mangkok agar berbusa.
  4. Dengan sikat halus, gosok keris yang telah dimandikan tadi dengan air lerak.
  5. Saat menggosok keris dengan sikat jangan dibolak-balik.
  6. Sebaiknya mulai dari pesi sampai ganja terus ke awak-awak hingga pucuk.
  7. Lakukan dengan pelan dan mantap hingga benar-benar bersih.
  8. Lebih hati-hati lagi jika membersihkan keris kinatah atau keris yang kembang kacang-nya sudah tipis.
  9. Lakukan hal yang sama pada bilah keris sebaliknya.
  10. Setelah benar-benar bersih, keringkan dengan menggunakan kain bersih dengan cara memijatkan kain ke seluruh bagian keris.
  11. Keris yang telah kering disiram kembali dengan air bersih lalu dikeringkan kembali seperti sebelumnya.

Sedangkan cara yang lain yang biasa digunakan untuk mutih yaitu:
  1. Direndam dalam air perasan jeruk nipis. Akan lebih baik jika kulit buah dikupas sebelum diperas. Kulit jeruk bisa menyebabkan bilah keris menjadi kemerahan. Perlu sering dicek waktu perendaman karena air jeruk ini bisa merusak besi keris jika terlalu lama direndam. Proses ini biasanya membutuhkan waktu sektar 6 jam - 1 hari tergantung kualitas warangan yang lama.
  2. Jika ingin tidak terlalu merusak besi keris, bisa menggunakan air kelapa tua. Ini bisa membutuhkan waktu antara 2 - 5 hari tergantung warangan yang melekat pada bilah. Jika menggunakan cara ini, maka tiap hari kita perlu membersihkan keris dengan sabun colek. Setelah kering dan sabun bersih, maka dimasukkan lagi ke air kelapa. Tetapi jangan mengganti air kelapa tersebut, biarkan menggunakan yang awal.
  3. Jika ingin instan, bisa menggunakan air yang dicampur dengan serbuk sitrun. Tetapi ini jelas tidak dianjurkan karena bisa membuat bilah keris menjadi berpori atau berbintik sehingga serat besinya akan hilang.
  4. Cara paling ekstrim dan sangat tidak dianjurkan adalah dengan menggunakan cairan HCL atau asam klorida. Ini sangat merusak keris walau keris bisa putih segera dalam waktu hanya sekitar 5 menit saja.

Setelah itu keris dioles dengan jeruk nipis yang sudah di kupas dan dibelah menjadi 2 bagian. Bisa juga ditambahkan dengan abu gosok, dimana belahan jeruk dimasukkan ke abu gosok dan dioleskan ke keris kemudian cuci dengan air bersih.

Selama proses memandikan atau mencuci keris ini ada yang menerapkan doa menjamas pusaka. Biasanya doa-doa tersebut berupa sholawat nabi, bacaan dzikir, atau doa-doa yang berisi harapan agar hasil jamasan keris nantinya bagus dan prosesnya berjalan dengan lancar tanpa kendala.

Memutih keris bisa dilakukan siapa saja asalakan dilakukan dengan hati-hati. Setelah bilah bebas karat dan disikat dengan jeruk nipis, cukup disikat terus pelan-pelan sampai nyaris "putih" berkilau. Jangan memutihkan keris dengan cara diamplas atau apalagi dikikir.

MEWARANGI


Proses 'mutih' bilah keris adalah kunci sukses pertama untuk mewarangi. Setelah tahap ini selesai, proses lainnya adalah membuat warangan yang tepat untuk berbagai jenis bilah dari proses mewarangi itu sendiri. Bahan utama membuat warangan adalah batu warangan (ada juga dalam bentuk serbuk) dan air jeruk nipis.

  1. Batu Warangan
    Batu warangan yang bermutu bagus adalah batu warangan impor dari Tiongkok namun harganya sangat mahal dan langka (sekitar 2 juta rupiah/ons). Batu warangan berbeda dengan arsenikum (Ar). Arsenikum yang dijual di toko kimia biasanya dipakai sebagai campuran agar warangan lebih 'galak'. Selain beracun, arsenikum juga lebih merusak bilah keris karena sifatnya lebih murni dibandingkan dengan batu warangan Tiongkok.

  2. Jeruk
    Yang dipakai adalah jeruk nipis (Jawa: Jeruk Pecel), bukan jeruk lemon, atau jeruk manis. Jeruk nipis dikupas kulitnya dengan pisau kecil hingga menyisakan kulit dalamnya. Jeruk dibelah membujur sesuai serat jeruk, dihilangkan bijinya, lalu diperas di atas waskom yang sudah ditutupi penyaring. Ampas perasan jeruk diperas lagi memakai kain di atas saringan. Hasilnya disaring lagi untuk mendapatkan air jeruk yang bening. Simpan beberapa hari dalam botol; bisa juga beberapa bulan; maka larutan jeruk akan mengendap dan menghasilkan larutan jeruk yang sangat bening. Butuh sekitar 15 kg jeruk nipis untuk membuat sekitar sekitar 1,5 liter air jeruk.

  3. Meramu Warangan
    Meramu larutan warangan ini juga penting karena bila kita belajar mewarangi tentu tak lepas pula dari membuat warangan. Biasanya jika kita ingin membuat larutan warangan baru, dibutuhkan juga bibit warangan lama yang sudah jadi dan berkualitas bagus sebagai katalisator agar warangan baru bisa bereaksi. Bibit yang dibutuhkan tidak perlu banyak, cukup secangkir (100 ml) untuk 1 liter larutan warangan baru. Berhasil atau tidaknya warangan bisa dilihat dengan memasukkan paku yang diikat dengan benang ke dalam botol larutan. Warangan yang berhasil akan segera menghitamkan paku yang digantung benang seharian.

Cara membuat larutan warangan yang baru:

  1. Pertama endapkan dulu selama berhari-hari hasil perasan air jeruk. Ambil botol kaca yang kosong, lalu tuang cairan yang bening (bagian atas) ke botol baru. Endapan jeruk nipis jangan dibuang, akan tetapi pisahkan dalam botol lain. Endapan ini bisa digunakan untuk bahan "memutih bilah". Dalam waktu lebih dari tiga bulan, jeruk bening dalam botol akan berubah warna dari kuning menjadi oranye. Inilah yang akan dipakai untuk larutan warangan baru.

  2. Selanjutnya adalah melarutkan warangan. Haluskan batu warangan dan campur dengan perasan air jeruk tadi. Komposisinya tergantung pada hasil yang diharapkan karena setiap jenis besi kadang harus dilakukan penyesuaian dengan cara menambahkan air jeruknya. Bisa dibilang tidak ada warangan yang langsung jadi. Harus dicocokkan dahulu dengan cara mencelupkan bilah percobaan yang sudah diputih. Jika dirasa "kurang galak", tambahkan perasan jeruk nipis agar lebih "galak".

  3. Hal ini memang membutuhkan perasaan dan pengalaman tersendiri. Seorang ahli warangan yang baik memiliki beberapa jenis larutan warangan yang akan dipakai untuk jenis logam/besi yang berbeda-beda pula. Bahkan tak jarang mereka punya larutan warangan untuk beberapa jenis tangguh, jadi tangguh dianggap mewakili jenis-jenis logam yang berbeda. Dia juga akan melihat "hari baik" untuk mulai proses mewarangi, biasanya saat cuaca terang dan matahari bersinar dengan cerah.

Metode Pewarangan


Hasil proses mewarangi dipengaruhi oleh minimal tiga faktor yaitu jenis logamnya, kualitas ramuan warangan, serta cara melakukan pewarangan. Ada juga sebelum diwarangi, bilah keris yang sudah mutih dijemur agar cukup panas sebelum dicelup dalam larutan warangan.

Ada juga yang memakai metode warangi bertahap yakni dimulai dari tahapan "warangan nom/muda" setelah itu meningkat ke "warangan tua" sehingga bilah semakin menghitam. Secara garis besar, ada dua metode mewarangi yang umum diketahui :

  1. Cara di-koloh
    • Siapkan warangan yang telah dicampur air jeruk
    • Rendam pusaka dalam cairan warangan beberapa kali dan setiap sepuluh menit diangkat kemudian diangin-anginkan sambil dibantu dengan pijatan tangan hingga meresap.

    Mencelup / merendam bilah dalam warangan tidak sembarangan, diperlukan pengalaman empiris yang sulit dituturkan dalam tulisan. Yang pasti setiap upaya mewarangi pasti sering terbentur kegagalan. Jika gagal? Ya diulangi lagi, diputih lagi. Begitu seterusnya

  2. Cara di-nyek
    • Pusaka dijemur hingga panas lalu dilumuri warangan secara langsung dengan cara dipijat-pijat (di-nyek) hingga kering.
    • Setelah kering dijemur lagi dan kemudian kembali dilumuri warangan dan dipijat-pijat. Begitu seterusnya hingga tiga kali.
    • Siapkan air jeruk dicampur dengan air buah klerak lalu pusaka dikeplok dengan kedua genggaman tangan, dibersihkan dengan air bersih lalu dijemur lagi
    • Setelah itu kembali ke proses awal, hingga beberapa kali sambil diamati bagian per bagian. Semakin lama maka warna pusaka semakin gelap, hingga guwaya pusaka menjadi bagus. Biasanya pengulangan hingga sembilan kali. Setelah yang terakhir, dibilas hingga bersih dari bercak merah warangan yang tidak menempel.

    Menjamas dengan cara di-nyek memang membutuhkan banyak warangan. Keunggulan cara ini adalah membuat pamor tidak mubyar melainkan kelem dan angker. Serat atau lapisan yang sering disebut pamor sanak pada besi keleng dapat tenggelam oleh nuansa wingit. Namun hasil metode ini kadang dirasa kurang kontras jika dibandingkan dengan yang di-koloh.

MEMBERI WEWANGIAN DAN MEMINYAKI PUSAKA


Berbeda dengan tahap sebelumnya, tahap ini merupakan tahap yang kerap diulang-ulang hingga sebulan sekali, terutama bagian meminyaki keris. Tahap ini disebut pula tahap pemeliharaan yang menjaga agar keris tidak berkarat.

  1. Memberi Wewangian Setelah keris diberi warangan, ada baiknya jika keris diberikan wewangian dupa terlebih dahulu. Cara meminyaki keris adalah sebagai berikut:
    • Pertama-tama olesi keris dengan minyak pusaka tipis-tipis.
    • Ambil campuran bubuk kayu gaharu, ratus, dan ramasala; taburkan pada bilah keris hingga lengket; biarkan beberapa menit.
    • Nyalakan lilin dan letakkan bilah keris di atas lilin dengan jarak lima jari.
    • Gerakkan ke kiri dan ke kanan, biarkan beberapa saat (tidak perlu sampai terbakar!)
    • Bersihkan dengan sikat halus.
    • Gosok lagi dengan minyak pusaka tipis-tipis seperti di atas.
    • Taburi dengan bubuk kayu cendana dan letakkan di atas lilin seperti tadi.
    • Setelah itu bersihkan lagi dengan sikat halus, diamkan beberapa saat.
    • Olesi dengan minyak pusaka. Angin-anginkan dan jangan tergesa dimasukkan dalam warangka.
    • Jangan menyimpan keris di tempat yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara.

  2. Membuat Minyak Pusaka Cara membuat Minyak Pusaka 100 cc adalah :
    • Minyak Parafin 60 cc
    • Bibit minyak Cendana 25 cc
    • Bibit minyak Melati 5 cc
    • Bibit Minyak Kenanga 10 cc

    Bisa juga ditambah atau diganti dengan bibit minyak lainnya (gaharu, kokka, dan lain-lain) sesuai selera karena bersifat sangat subjektif dan terkadang aroma/bau keris juga menunjukkan identitas pemiliknya. Jangan dicampur bahan parfum atau minyak beralkohol karena akan membuat keris menjadi merah berkarat.

Keris yang telah melewati seluruh tahapan di atas kemudian bisa disimpan kembali dengan warangka dan dedernya lalu dimasukkan ke dalam singep, lemari, atau digantung. Itulah tadi cara merawat benda pusaka. Anda dapat melakukan hal yang sama saat mencari cara merawat keris berkhodam, cara merawat keris luk 5, atau cara merawat keris naga sasra.

Sumber dan materi referensi :
1. Milis FDK Yahoo Group (Forum Diskusi Keris)
2. Majalah Pamor Edisi 03
3. Majalah Pamor Edisi 05
4. Haryono Haryoguritno, "Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar", Indonesia Kebanggaanku, Jakarta, 2005
5. Bambang Harsrinuksmo, "Ensiklopedi Keris", Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004
6. Koesni, "Pakem Pengetahuan tentang Keris", Aneka Ilmu, Semarang, 1979
7. Sumber gambar: Republika
Untuk pemesanan :
  • Minyak Asihan
  • Bulu Perindu
  • Uang Asmak
  • Getah Katilayu
  • Jimat Mancing
  • Jimat Kecerdasan
  • Batu Galih Kelor
dan benda-benda lainnya silahkan kirim WhatsApp ke 085777776418 atau klik di sini.